Marshel menatap mata Gladys yang memerah. Bibirnya sedikit bergetar, tatapannya keras kepala dan tegas. Tatapan itu seolah dipenuhi duri, tidak mengizinkannya melangkah sedikit pun melewati batas.Dia hanya berdiri diam menatap Gladys dalam waktu yang lama.Entah berapa lama waktu berlalu, barulah Marshel perlahan mengangkat tangan. Gerakannya sangat lembut, tetapi cepat. Dia menyeka sedikit air mata di sudut mata Gladys.Namun, ekspresinya tetap tanpa emosi. Dia berkata, "Kalau begitu, kamu istirahat lebih awal."Marshel berbalik dan pergi.Gladys sampai bertanya-tanya apakah tadi Marshel benar-benar menyeka air matanya atau itu hanya perasaannya. Rasanya terlalu samar dan tidak nyata.Dengan wajah tanpa ekspresi, dia kembali ke kamar untuk melihat keadaan kakeknya sekali lagi. Setelah itu, baru dia pergi.Mustahil baginya menyetujui permintaan untuk membantu Ingrid. Adapun Marshel, malam ini dia datang menemuinya dan ternyata tidak memaksanya ataupun merayunya dengan iming-iming apa
Read more