Imran menatap Zayyan dengan heran.Zayyan menoleh ke arah Gladys dengan tatapan sinis, lalu sengaja berkata, "Bagaimanapun juga, Bu Ingrid adalah penolong Keluarga Wikarsa. Nggak peduli apa pun, Keluarga Wikarsa akan memenuhi permintaannya. Kakek, dia pernah selamatkan nyawa Kakek, Kakek nggak boleh mengabaikan jasanya hanya karena dia pernah gagal sekali."Mendengar kata jasa itu, mata Gladys berkilat seolah-olah memahami sesuatu. Dalam sekejap, semuanya menjadi jelas baginya. Dia pun menatap Zayyan dengan tatapan yang agak aneh.Imran juga mengira dia salah dengar, bahkan sampai mengorek telinganya sendiri. "Coba ulangi sekali lagi? Siapa yang selamatkan Kakek?"Zayyan tiba-tiba merasa suasananya tidak beres. Kata-kata yang tadinya hendak langsung diucapkan tiba-tiba menjadi ragu, apalagi saat bertatapan dengan sorot mata kakeknya yang terlihat ingin tertawa karena marah. Entah mengapa, hawa dingin langsung menjalar di tubuhnya dan membuatnya merasa tidak yakin. "Kenapa Kakek menatap
Ler mais