Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Altair, Sabiya hampir kehilangan kata-kata. Namun, ia berusaha keras untuk tetap tenang di hadapan sang putra."Itu bukan Mama, Sayang," sahut Sabiya, memaksakan sebuah senyuman kecil. "Wanita di foto ini adalah mendiang istri dari Paman Valeriano.""Hem... tapi dia mirip sekali dengan Mama," gumam Altair, tidak mudah percaya begitu saja."Apakah dia kembaran Mama? Seperti aku dan Ares?"Tebakan putranya membuat Sabiya tak sanggup menahan tawa."Mama tidak punya kembaran, Sayang. Di dunia ini, terkadang ada orang yang memiliki wajah mirip dengan kita.”Sebelum Altair sempat mengamati lebih jauh, Sabiya lekas menarik ponselnya jauh-jauh. Ia mengunci layar hingga meredup gelap, lalu menyimpannya di atas meja."Sudah, jangan lihat-lihat ponsel lagi," potong Sabiya mencoba mengalihkan perhatian. "Mama akan pesan makanan untuk kita.""Mama, besok hari terakhir kita di Aldena. Aku ingin makan di luar," pinta Altair tiba-tiba.Sabiya terkejut mendengar p
Ler mais