Di sudut ruangan Executive Lounge, Altair masih duduk tenang menghadap layar komputer. Dari luar, ia tampak seperti bocah lima tahun biasa yang asyik berselancar di dunia maya. Namun, fokus utama Altair bukanlah pada layar. Bocah kecil itu perlahan memajukan tubuhnya sedikit ke arah dinding kaca, yang berada tepat di samping mejanya. Dari sudut ini, pandangan Altair mengarahpada area restoran di lantai satu.Altair menyipitkan mata abu-abunya yang jernih, mengamati barisan meja makan di bawah sana. Setelah beberapa saat mencari, tatapannya terkunci pada meja nomor dua belas.Di sana, ia menemukan ibunya, Sabiya.Sabiya yang berbalut gaun panjang hitam, duduk berdampingan dengan Andreas dan Nina. Namun, perhatian Altair teralihkan pada sosok pria dewasa yang duduk berhadapan dengan ibunya.Postur tubuh pria itu tegap, gagah, dan memancarkan aura dominan yang kuat. Sontak, Altair yakin pria itu adalah Roman Valeriano.Tepat saat Roman mendongak untuk bicara, tubuh mungil Altair menegan
Ler mais