Jari-jari Sabiya terasa sedingin es saat ia memegang ponsel. Sementara Dante menatapnya dengan penuh harap.Tut... tut... tut...Nada sambung itu berbunyi lambat, seolah sengaja mempermainkan irama jantung Sabiya yang berdegup kencang. Tidak ada jawaban. Panggilan pertama itu berakhir dengan suara operator otomatis. "Tidak diangkat, Tuan Dante," bisik Sabiya."Coba lagi, Nyonya," pinta Dante dengan nada parau. "Tuan Roman mungkin sedang dalam bahaya.”Dengan telapak tangan yang berkeringat, Sabiya kembali menekan layar ponsel. Ia mengulang panggilan yang sama untuk kedua kalinya, sambil menahan napas.Di dalam hati, Sabiya berdoa agar Jetro bersedia mengangkat teleponnya di tengah ketegangan yang menyelimuti markas besar klan Falcone.Akhirnya, suara sambungan berubah. Nada tunggu terputus, digantikan oleh helaan napas berat dari seberang sana."Ada apa, Biya?" Suara bariton Jetro yang rendah menyapa indra pendengaran Sabiya.Tenggorokan Sabiya tiba-tiba terasa perih. Ia membuka bib
Ler mais