"Nimas ...," panggil Asri sambil meletakkan nampan berisi wedang jahe.Pelayan muda itu dengan ragu-ragu menatap nyonyanya yang kini lebih sering memegang pangrupak daripada cermin perunggu."Ada apa, Asri?" tanya Puspa, ia mengalihkan tatapannya dari lembaran lontar kering. Suaranya sedikit serak, karena cuaca yang tak menentu dan ia jarang minum beberapa hari ini."Itu ...." Asri sedikit gugup, dia menelan ludah sebelum melanjutkan, "Kain jarik untuk pernikahan besok sudah selesai disulam oleh Tilar. Nimas ingin melihatnya?""Taruh saja di sana, Asri," jawab Puspa, ia kembali menatap seluruh baris aksara di hadapannya, lalu mulai menulis baris yang baru. "Aku akan melihatnya nanti."Puspa berhenti menulis, ia menoleh kepada Tilar dan Asri dan berucap, "Kalian beristirahatlah, ini sudah larut malam.""Oh ... baik," jawab Asri, dia melirik Tilar yang berdiri di dekat pintu.Kedua pelayan itu saling berpandangan dengan raut cemas yang sama, karena merasakan ada sesuatu yang bergeser d
Magbasa pa