"Giri, kembali ke kamar dulu, ya?" bujuk Puspa lembut sambil tersenyum manis. "Sudah malam, Yayu harus membereskan ini." Setelah bocah itu mengangguk patuh, Puspa menoleh kepada Tilar. "Antarkan Giri," perintahnya. Tilar mengangguk, lalu dia menggandeng tangan Girindra dan membawanya keluar kamar Puspa. Sementara di dalam kamar, Puspa mengembuskan napas. Ia melihat ke atas meja jati, kalung permata biru itu tergeletak di sana. Sangat indah. Permata itu memamerkan bagian belakang liontinnya di bawah sorot cahaya lilin yang sengaja Puspa dekatkan. Jemari Puspa menelusuri lekuk demi lekuk ukiran sulur halus yang terpahat di sana, lalu ia menoleh kepada Asri yang membereskan kain-kain sutra. "Asri," panggil Puspa. "Bawakan lagi beberapa lembar lontar." Asri menoleh dan mengernyit. "Untuk keperluan apa, Nimas?" tanyanya karena merasa sangat aneh. "Bawakan saja, Asri." Asri diam sesaat, lalu menurut dan segera berlari keluar kamar untuk mengambil yang diminta oleh Puspa. Sem
Ler mais