"Adi?" panggil Dana. Tidak ada jawaban dari temannya itu hingga beberapa saat, dan dia memutuskan memanggilnya lagi, "Hei, Adiwilaga!" Pemuda itu baru berkedip setelah nama lengkapnya dipanggil, ia menoleh kepada Dana yang akhirnya bertanya, "Kau kenapa?" Adi menunduk melihat ukiran peraknya yang tadi tergores. "Tidak ada." Dana mendengus. "Kalau tidak ada, perakmu tidak mungkin rusak begitu," katanya. Adi menunduk, ia memandangi pahatan merak itu. Cukup lama sebelum akhirnya mengangkat kepala. Dana mengira ia akan memberinya alasan, tapi justru bertanya, "Cerita tadi ... benar?" Dana mengangguk. "Ya, benar," katanya sambil mengerjakan mata dan duduk di samping Adi. "Satu kota sedang membicarakannya. Memang kenapa?" Adi menggeleng, lalu terdiam, tapi Dana tetap melanjutkan sembari berdecak prihatin, "Kasihan juga Nyai Anom." Adi memutar kepingan perak yang rusak di jemarinya. Di kepalanya, bayangan Puspa yang tempo hari berdiri di depan tokonya ini kembali berputar. Aroma seda
Read more