"Mari lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya." Senyum merekah di wajah tegas Adi. Ia berhenti mengukir dan berbalik, mengulurkan tangannya kepada Dana di dekat perapian. "Panaskan kuningan ini lagi, Dana."Dana meraihnya tanpa menoleh, dia sibuk menjaga kestabilan panas api, tapi sedikit banyak dia tahu jika di sekitar wilayahnya sedang berada dalam pengawasan. Sayangnya dia tidak tahu apakah itu baik, buruk, atau justru sebaliknya."Kita harus cepat-cepat selesai membuat kunci," kata Dana. Nadanya pelan, hampir lenyap dimakan suara membara api. "Aku tidak suka situasinya ini."Jika perasaan berkaitan dengan bangsawan rasanya seperti ini, Dana lebih rela jika toko kerajinan peraknya dan Adi hanya berputar di lingkaran rakyat.Dana nyaris mengangguk ketika dia mendengar Adi berucap, "Aku tahu perasaanmu.""Apa?" Dana langsung menoleh. Keningnya mengerut akan ketidakpercayaan, meski dia tahu seperti apa Adi.Ketika Adi menoleh, Dana menahan napas. Lelaki tersebut tampak sangat serius.
Read more