"Aku tidak tahu, tapi dari tampilannya ... jelas Nimas itu seorang bangsawan." Pemuda yang sedang memanaskan perak itu—Dana—berhenti melongok dan meneliti, ia terkekeh. "Sepertinya dia tertarik denganmu, Adi, seperti selalu."Adi mendengkus, ia lalu kembali memahat perak. "Omong kosong," katanya. "Kembali bekerja."Instingnya sebagai seorang pria yang terbiasa hidup di jalanan ibu kota terasah sangat tajam. Sejak seminggu lalu, ia sudah menyadari keberadaan sepasang mata jelita yang terus mengintainya dari balik kerumunan.Aroma pekat sedap malam yang ditinggalkan wanita itu terlalu khas untuk diabaikan. Ia yakin, lusa perempuan itu pasti akan kembali lagi untuk menguntitnya.Adi menoleh kepada Dana. "Kita tetap di sini sampai lusa," katanya."Kenapa?" Dana menoleh dengan kening mengernyit, tidak biasanya Adi seperti ini, tapi satu hal pecah di kepalanya hingga senyumnya mengembang. "Oh, aku tahu, kau ingin menunggu Nimas itu, ya?"Adi berdaham. Memang benar, tapi sepertinya Dana haru
Magbasa pa