Pertanyaan yang dilontarkan Edric pagi itu terus terngiang dalam benaknya. Seberapa keras pun pria itu berusaha melupakannya, melakukan berbagai kegiatan untuk mengalihkannya, nyatanya tak berefek apapun."Kamu mencintainya?" Kalimat itu, begitu berpengaruh untuknya sehingga berulang kali dia menanyakan pada dirinya sendiri, "apakah dia mencintai Rosélia?""Ah sialan," umpatnya. Dia melempar map hitam yang baru saja dia bubuhkan tanda tangan. Malam telah menyapa dan Maverick masih berusaha fokus pada pekerjaannya. Namun sepertinya usaha yang dia lakukan sia-sia. Bukannya melupakan ucapan Ayahnya, justru dia malah terus mengingatnya.Di tengah rasa kalutnya, suara telepon hanya menambah emosi Maverick. Awalnya, ia hendak mengabaikannya. Tapi, begitu dia melihat nama yang tertera di layarnya, Maverick menghela nafas dan terpaksa mengangkatnya.“Halo?” sapanya. “Tidak bisakah besok saja? Aku lelah,” tolaknya halus.“Baiklah, aku ke sana sekarang.” Setelah memutuskan sambungannya, Maver
Read more