Setelah suasananya sedikit tenang, Nadia mengurai pelukan dan menghapus air matanya sejenak. Dia kembali beringsut dengan lutut, berpindah ke hadapan Galih, sang ayah tercinta. Tatapan Galih yang teduh namun berwibawa menyambutnya, meski binar mata sang ayah tidak bisa menyembunyikan rasa haru yang mendalam.Nadia melakukan prosesi yang sama, mencium punggung tangan Galih, merunduk mengecup lutut kanannya, dan kembali mengunci punggung tangan sang ayah di dalam genggamannya."Ayah, Eneng mohon doa restu Ayah," ucap Nadia, mencoba meneguhkan suaranya walau sisa isak tangis masih terdengar. "Mohon maafkan Eneng yang belum bisa menjadi putri yang sempurna. Hari ini, Eneng mohon Ayah berkenan menikahkan Eneng dengan Mas Aditya. ridhoi langkah kami, Yah."Galih menarik napas panjang, mengusap puncak keala Nadia dengan kokoh, sebuah usapan khas seorang ayah yang menyalurkan kekuatan."Ayah maafkan, Neng. Dan hari ini, dengan penuh keikhlasan, Ayah
Read more