"Aaarrgghh... panas, Rell!"Di dadanya, tanda cakar merah-emas berdenyut kencang. Saluran energi Yang-nya sudah penuh sesak, hampir retak. Garis pinggang Aurelia yang ramping, lengkungan pinggul yang lembut, kulit yang tampak mulus di bawah cahaya redup. Dan dada gadis itu yang naik-turun pelan terlihat penuh dan indah. Bahkan dalam keadaan hampir tidak sadar, Nagendra sempat menahan napas.“Rell, tolong...,” suaranya serak, pecah. “Gue gak bisa nahan.”Aurelia mengunci pintu. Ia naik ke ranjang, langsung duduk di pangkuan Nagendra, lalu memegang wajah pemuda itu dengan kedua tangan.“Pakai aku,” bisiknya. “Jangan ditahan. Salurkan semuanya.”Nagendra menunduk ke lehernya. Napasnya panas. Tangannya yang gemetar naik, meraba bahu Aurelia, lalu turun ke dada. Telapaknya menutupi salah satu sisi, merasakan kelembutan dan berat yang pas di genggamannya. Ibu jarinya bergerak pelan di atas puncak yang sudah mengeras.“Wangi lo bikin gue gila,” gumamnya. “Dada lo… lembut banget, Rell.”Ia m
Huling Na-update : 2026-09-19 Magbasa pa