Pintu kamar utama sedikit terbuka. Cahaya lampu dinding yang redup menerobos celah. Satria masuk tanpa suara. Di dalam, Liana sudah menunggu. Ia duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan kimono sutra warna gading yang longgar. Rambutnya tergerai, dan di pangkuannya ada cangkir teh yang sudah setengah dingin.“Kamu pulang lebih cepat dari yang Vanya bilang,” suaranya lembut, tapi matanya tajam meneliti wajah suaminya. “Dan aura kamu masih panas. Aku bisa melihatnya dari sini.”Satria melepas jas dan meletakkannya di sandaran kursi. “Malam ini panjang.”Liana berdiri. Ia mendekat, jari-jarinya langsung menyentuh dada Satria tepat di atas jantung—tepat di tengah kepala naga yang tergambar di kulitnya. Tato itu langsung bereaksi. Sisik-sisik hitamnya berdenyut, dan kilatan emas menyebar ke seluruh tubuh naga, seolah menyambut sentuhan yang dikenalnya.“Lepas baju,” perintah Liana pelan. “Sekarang.”Satria membuka kemeja. Kain itu jatuh ke lantai. Tato naga muncul sepenuhnya di bawah ca
Huling Na-update : 2026-09-29 Magbasa pa