"Larasati!" seru Liana cemas, langsung memegang jemari Larasati dan menuntunnya duduk di sofa yang masih utuh. "Kamu luka parah begini... Ya Tuhan, Vanya, panggil tim medis pribadi sekarang!"Larasati menatap Liana dengan kehangatan yang amat tulus. "Aku tidak apa-apa, Mbak Liana," sahut Larasati pelan, suaranya agak parau namun memancarkan keteguhan sejati. "Luka fisik ini... akan sembuh dalam beberapa hari. Yang terpenting, Mbak Liana dan Den Satria aman."Satria melangkah mendekat, berdiri tegap di hadapan Larasati dan Vanya. "Terima kasih, Larasati, Vanya," ujar Satria. "Pengorbanan kalian malam ini tidak akan pernah terlupakan oleh klan Himawan."Vanya tersenyum lebar seraya mengusap peluh di keningnya. "Sama-sama, Den Satria! Yang penting gedung ini enggak jadi meledak dan kita semua masih bisa sarapan bareng besok pagi!"Larasati menundukkan kepalanya pelan, menyembunyikan rona tipis dan pendar cinta sunyi di matanya saat mendengar ucapan Satria. Di dalam hatinya, Larasati mak
Terakhir Diperbarui : 2026-08-03 Baca selengkapnya