Satu jam kemudian, aroma harum sup ayam rempah dan aromaterapi melati memenuhi area pendopo dalam Penthouse. Liana sudah mengenakan gaun terusan sutra longgar berwarna krem yang anggun, melangkah keluar kamar dengan buhul rambut yang diikat asal namun memancarkan pesona kedewasaan yang sangat matang.Di meja makan panjang, Vanya sedang duduk bersandarkan bantal empuk. Wajahnya yang tadi pagi pucat pasi kini mulai menampakkan sedikit rona kehidupan, meski lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa besarnya daya jiwa yang telah hilang. Pak Hendra berdiri tegap beberapa langkah di sampingnya, mengawasi laporan tablet keamanan."Pagi, Mbak Li, Den Satria," sapa Vanya dengan nada suara yang mencoba terdengar renyah seperti biasa, walau agak parau.Liana melangkah mendekat, meletakkan mangkuk sup hangat tepat di hadapan Vanya. Tanpa canggung, Liana menggenggam kedua tangan Vanya yang masih terasa agak dingin."Makan yang banyak, Vanya," ujar Liana lembut, menatap lurus mata peretas
Last Updated : 2026-08-01 Read more