"Untuk kali ini, kamu boleh kehilangan kendali, Laras," kata Satria, suaranya hangat namun tetap menjaga jarak. "Kamu sudah bertarung dengan berani malam ini. Kamu berhak."Larasati mengangkat kepalanya, menatap Satria dengan mata yang masih basah. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu, dan di dalamnya ada percakapan yang tidak perlu diucapkan.Satria tersenyum kecil. Lalu dia berbalik ke arah tangga menuju penthouse."Ayo," ucapnya pelan, mengusap pucuk kepala Larasati. "Kita pulang."Larasati mengangguk, menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya. "Ya, Satria. Makasih."Satria menoleh lagi, "jangan banyak berpikir. Obati lukamu dan beristirahatlah."***Di penthouse utama, fajar mulai menyingsing dari balik tirai jendela. Sinar keemasan matahari pagi masuk perlahan, menyapu ruangan yang masih sunyi. Satria melangkah dengan langkah pelan. Bajunya masih berlumuran debu, rambutnya berantakan, dan ada luka di lengannya yang mulai membeku. Tapi di matanya, ada kelegaan dan kebah
Terakhir Diperbarui : 2026-08-07 Baca selengkapnya