Entah sudah berapa lama aku duduk di bangku taman itu. Yang jelas, angin malam terasa makin dingin menusuk.Air mataku memang sudah berhenti mengalir. Namun sesak, masih mengikat dalam dada ini.Setiap kali memejamkan mata, yang muncul justru bayangan Lyra.Ia yang tersenyum saat berpamitan pagi itu.Ia yang mengangguk setiap kali aku berpesan agar jangan terlalu lelah.Ia yang beberapa hari terakhir memaksakan senyum, padahal tubuhnya sedang berjuang menjaga kehidupan kecil di dalam rahimnya.Aku mengepalkan kedua tangan. "Kenapa kamu gak mau jujur, Lyra ...."Kalimat itu kembali keluar begitu saja.Aku benar-benar tidak mengerti.Selama ini, aku tidak pernah melarangnya bekerja.Mungkin aku memang posesif, tapi percayalah, semua itu karena aku hanya ingin menjaganya.Kalau saja sejak awal aku tahu kehamilannya.Kalau saja ia sempat mengatakan. "Pak Mayor, aku hamil."
Read more