Baru saja mobilku berhenti di halaman, Ravyan sudah berdiri di depan pintu rumah seperti biasanya.Tangannya terlipat di dada, tetapi tatapannya langsung menyapu wajahku dari ujung kepala sampai kaki.Aku baru saja turun ketika ia berjalan menghampiri.Bukannya tersenyum, ia justru memegang dahiku, lalu pipiku. Kemudian menatap kedua mataku lekat-lekat.Aku tertawa kecil. "Pak Mayor lagi ngapain?""Memastikan istri saya sehat."Aku mengembuskan napas pelan. "Aku sehat, kok."Ravyan menggenggam tanganku. "Tapi tetap, kita pergi sekarang juga.""Ke mana?""Ke klinik."Aku spontan menghentikan langkah. Jantungku berdegup lebih cepat. "Pak Mayor, aku gak apa-apa.""Lyra.""Sungguh.""Saya merasa perlu memastikan kondisi kamu dan saya gak mau ambil risiko."Nada suaranya begitu tenang, tetapi aku tahu itu adalah nada seorang Mayor yang sedang memberi keputusan, bukan menawarkan pilihan.Aku tersenyum tipis, lalu memegang kedua tangannya. "Pak Mayor ....""Hm?""Kalau hasilnya memang cuma k
더 보기