Aku dan Ravyan seketika beradu tatap. Aku dapat melihat jelas raut wajahnya yang panik dan merasa terdesak. Dengan kesadaran penuh aku merebut ponsel dari tangan Ravyan."Ini Lyra, Mi," ucapku kemudian."Lyra? Nak? Ini benar kamu, Sayang?" Suara Mami terdengar antusias bercampur kaget."Benar, Mi. Aku ... aku sudah bertemu dengan Ravyan sekarang."Hembusan napas lega Mami pun terdengar. "Ya Allah, Nak. Akhirnya ... Mami cemas sekali. Kamu ke mana saja, Sayang? Kenapa kamu pergi dari rumah?""Emm ... maaf, Mi. Aku gak bermaksud buat Mami cemas. Aku ... cuma gak tahu lagi harus apa. Sekarang, Mami jangan cemas lagi. Aku sudah bersama Ravyan." Aku coba menenangkan Mami."Setelah mendengar suara kamu, mami bisa sedikit tenang sekarang. Tapi, belum benar-benar lega. Coba kita video call, Nak."Aku langsung menoleh pada Ravyan hingga kami bertatapan lagi. Kemudian aku menunduk, menatap keadaan diriku yang hanya terbalut selimu
Read more