Langkah kaki Alex menjauh dari pintu apartemen Valeria terasa berat, seolah setiap lantai yang ia turuni menariknya kembali ke atas. Ia tahu ia salah. Kedatangannya malam ini terlalu tiba-tiba, terlalu penuh perasaan yang meluap tanpa kendali, dan jelas membuat Valeria merasa tertekan. Sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia lakukan. Di lobi, ia berhenti sejenak, menatap lantai marmer yang dingin, lalu menepuk pelan dahinya sendiri. Ia seharusnya lebih sabar. Ia seharusnya memberi ruang, bukan mendesak dengan cara yang justru memisahkan mereka.Alex berbalik perlahan. Kakinya melangkah kembali menuju lantai tempat apartemen Valeria berada, kali ini jauh lebih tenang, lebih terukur. Ia tidak datang untuk meminta jawaban atau menuntut kepastian. Ia hanya ingin menyampaikan satu hal saja; permintaan maaf yang tulus, tanpa syarat, tanpa pamrih. Sesampainya di depan pintu itu lagi, ia tidak langsung mengetuk. I
Read more