Saat tiba di apartemen, Valeria menemukan kartu nama Adrian di dalam tasnya. Ia mengeluarkannya, melihatnya sejenak, lalu meletakkannya di atas meja kerja. Setelah itu, ia berganti pakaian, membuat secangkir teh, dan mulai menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.Namun, pikirannya kembali pada pertemuan sore tadi. Bukan karena kartu nama itu, melainkan karena percakapannya dengan Adrian terasa berbeda. Sederhana, mengalir, dan nyaman. Malam itu, Valeria menutup laptop lebih awal. Ia mencoba membaca buku, tetapi pikirannya terus melayang ke pertemuan mereka di seminar."Ini berlebihan," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.Keesokan paginya, Valeria tiba di Westbridge University lebih awal dari jadwal mengajarnya. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan laptop, lalu memeriksa agenda hari itu. Ada dua kelas, satu
Magbasa pa