分享

Sisa Badai Semalam

作者: Peonylrs
last update publish date: 2026-06-18 02:08:38
Chapter 12

Aku hanya bisa meringkuk di kasur dengan pandangan kosong, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, realita pahit langsung menamparku. Seluruh tubuhku terasa remuk, seolah-olah setiap sendi dan tulang di dalam diriku telah dipatahkan lalu disusun kembali dengan paksa. Di sampingku, dalam keheningan kamar, terdengar dengkuran yang teratur dan dalam.

Kim Muyeol tidur dengan sangat lelap dalam posisi telungkup, dengan satu lengan kekarnya yang kokoh masih terentang bebas di at
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Muyeol.. Jangan keluar di dalam"

    Chapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper

  • My Husband was a Cartel Boss   Makan Malam Berdarah

    Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga

  • My Husband was a Cartel Boss   Hari Pertama Setelah Ikatan

    Chapter 23Malam harinya, kelelahan fisik dan mental kembali kurasakan setelah seharian menguras emosi melepas kepergian keluargaku ke Indonesia. Perutku terasa mulas ringan, membuatku hanya bisa berbaring miring di atas ranjang king size sambil memeluk perutku di bawah selimut tebal.Pintu kamar terbuka dan monster yang sudah menjadi suamiku itu muncul. Aku refleks menegang di balik selimut, mengira dia akan menuntut haknya sebagai suami malam ini setelah pernikahan rahasia kami disahkan. Namun, Muyeol justru melangkah memutari ranjang dan naik ke sisi kosong di sebelahku. Pria itu berbaring, lalu tanpa peringatan, dia menarik tubuhku mendekat dari belakang."Muyeol, kumohon.. aku masih sangat lelah," bisikku lirih, mencoba menggeliat untuk memberi jarak di antara tubuh kami."Diam dan jangan bergerak," potong Muyeol rendah. Dia tidak melakukan tindakan agresif atau kasar apa pun seperti yang biasa dia lakukan. Lengan kanannya yang besar dan kokoh melingkar erat di pinggangku, mena

  • My Husband was a Cartel Boss   Dekapan Hangat di Malam Hari

    Bab 22 Aku berhasil melewati sisa acara jamuan makan siang itu tanpa harus tumbang, meski seluruh tubuhku sempat dibanjiri keringat dingin. Genggaman tangan Muyeol di bawah meja memaksaku tetap tegak. Dua hari berlalu dengan sangat cepat. Selama dua hari itu, Muyeol memainkan perannya dengan baik di depan keluargaku. Dia adalah sosok menantu ideal—mapan, jaga sikap, dan sangat memanjakanku. Namun, waktu kebersamaan kami harus berakhir malam ini. Adik pertamaku terus-menerus mengecek ponselnya karena jatah cuti tahunannya sudah benar-benar habis, sementara adik bontotku juga mulai cemas karena takut tertinggal materi kuliah. "Kak, maaf yaa, Rumi harus benar-benar pulang malam ini. Libur kuliahnya cuma dikasih seminggu sama dosen, sebenarnya masih mau di sini sih kak, kapan lagi kan ke luar negeri" ucap adik bungsuku saat kami berjalan beriringan di area ruang tunggu. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan sesak di dada. "Iya, enggak apa-apa. Kami belajar yang rajin yaa,

  • My Husband was a Cartel Boss   Ikatan Kelam di Busan

    Bab 21 Dua hari sejak pengumuman kehamilan itu, aku mengurung diri di dalam kamar tidur utama mansion. Aku menolak menyentuh makanan apa pun yang dibawakan oleh Bibi Jung. Setiap kali aroma masakan itu tercium, aku langsung mual, memaksaku berlari ke kamar mandi. Kenyataan bahwa aku mengandung anak dari seorang bos kartel membuatku terus menangis setiap malam hingga kepalaku berdenyut. Malam itu, keheningan kamar pecah saat pintu terbuka. Kim Muyeol melangkah masuk, lalu berhenti tepat di tepi ranjang. Sepasang matanya yang tajam langsung menatap ke arahku yang sedang meringkuk di balik selimut, sebelum beralih ke meja nakas tempat nampan makanan sore tadi masih utuh dan mendingin. "Apa yang kau mau?" tanya Muyeol dengan suara baritonnya yang datar dan dingin. Aku mengumpulkan sisa tenaga untuk mendongak, menatap wajahnya yang tidak memperlihatkan emosi sama sekali. Air mataku kembali menetes. Aku tidak sanggup menerima takdir ini. “Ini tidak benar, Muyeol… Kita bahkan buka

  • My Husband was a Cartel Boss   Benih sang Bos Kartel

    Chapter 20 Kesadaranku kembali secara perlahan, ditarik paksa dari kegelapan yang pekat oleh rasa pening yang masih terasa di pangkal kepalaku. Kelopak mataku terasa berat, namun bau antiseptik yang tajam dan aroma maskulin familiar yang pekat segera memicu instingku untuk membuka mataku. Saat aku akhirnya bisa membuka mata sepenuhnya, hal pertama yang kutangkap adalah langit-langit kamar tidur utama yang megah. Aku tidak lagi berada di lantai perpustakaan yang dingin. Seseorang telah memindahkan tubuh lemasku ke atas kasur king-size beludru ini. "Mhh.. kenapa..." aku lemas Suasana di dalam kamar begitu hening. Di sisi ranjang, Bibi Jung berdiri dengan kepala menunduk, tangannya saling bertautan cemas. Di dekat nakas, seorang pria paruh baya berjas dokter formal tengah merapikan peralatan pemeriksaan dasar—seperti tensimeter dan stetoskop—ke dalam tas kulitnya. Sepertinya, aku sudah pingsan cukup lama. 'kepalaku pusing, kok aku bisa gini ya?' batinku Lalu, tepat di ujung ranja

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Ahh.. M-muyeol"

    Chapter 11 Aku sengaja bertahan di perpustakaan hingga jarum jam dinding berdentang melewati tengah malam. Jemariku pura-pura sibuk merapikan kembali kamus bahasa asing dan tumpukan kertas logistik yang sebenarnya sudah selesai kuterjemahkan sejak sore tadi. Aku ketakutan. Kalimat terakhir Muyeol

  • My Husband was a Cartel Boss   Batas yang Mengabur

    Chapter 8 Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela raksasa di perpustakaan pribadi Kim Muyeol sama sekali tidak mampu menghangatkan tubuhku. Aku berdiri diam di dekat meja marmer hitamnya, meremas ujung kemeja rajut yang kukenakan dengan sangat erat. Jantungku berdegup kencan

  • My Husband was a Cartel Boss   Batasan di Ambang Malam

    Chapter 5 ​Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruanga

  • My Husband was a Cartel Boss   Ilusi Kebebasan

    Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status