LOGINChapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper
Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga
Chapter 23Malam harinya, kelelahan fisik dan mental kembali kurasakan setelah seharian menguras emosi melepas kepergian keluargaku ke Indonesia. Perutku terasa mulas ringan, membuatku hanya bisa berbaring miring di atas ranjang king size sambil memeluk perutku di bawah selimut tebal.Pintu kamar terbuka dan monster yang sudah menjadi suamiku itu muncul. Aku refleks menegang di balik selimut, mengira dia akan menuntut haknya sebagai suami malam ini setelah pernikahan rahasia kami disahkan. Namun, Muyeol justru melangkah memutari ranjang dan naik ke sisi kosong di sebelahku. Pria itu berbaring, lalu tanpa peringatan, dia menarik tubuhku mendekat dari belakang."Muyeol, kumohon.. aku masih sangat lelah," bisikku lirih, mencoba menggeliat untuk memberi jarak di antara tubuh kami."Diam dan jangan bergerak," potong Muyeol rendah. Dia tidak melakukan tindakan agresif atau kasar apa pun seperti yang biasa dia lakukan. Lengan kanannya yang besar dan kokoh melingkar erat di pinggangku, mena
Bab 22 Aku berhasil melewati sisa acara jamuan makan siang itu tanpa harus tumbang, meski seluruh tubuhku sempat dibanjiri keringat dingin. Genggaman tangan Muyeol di bawah meja memaksaku tetap tegak. Dua hari berlalu dengan sangat cepat. Selama dua hari itu, Muyeol memainkan perannya dengan baik di depan keluargaku. Dia adalah sosok menantu ideal—mapan, jaga sikap, dan sangat memanjakanku. Namun, waktu kebersamaan kami harus berakhir malam ini. Adik pertamaku terus-menerus mengecek ponselnya karena jatah cuti tahunannya sudah benar-benar habis, sementara adik bontotku juga mulai cemas karena takut tertinggal materi kuliah. "Kak, maaf yaa, Rumi harus benar-benar pulang malam ini. Libur kuliahnya cuma dikasih seminggu sama dosen, sebenarnya masih mau di sini sih kak, kapan lagi kan ke luar negeri" ucap adik bungsuku saat kami berjalan beriringan di area ruang tunggu. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan sesak di dada. "Iya, enggak apa-apa. Kami belajar yang rajin yaa,
Bab 21 Dua hari sejak pengumuman kehamilan itu, aku mengurung diri di dalam kamar tidur utama mansion. Aku menolak menyentuh makanan apa pun yang dibawakan oleh Bibi Jung. Setiap kali aroma masakan itu tercium, aku langsung mual, memaksaku berlari ke kamar mandi. Kenyataan bahwa aku mengandung anak dari seorang bos kartel membuatku terus menangis setiap malam hingga kepalaku berdenyut. Malam itu, keheningan kamar pecah saat pintu terbuka. Kim Muyeol melangkah masuk, lalu berhenti tepat di tepi ranjang. Sepasang matanya yang tajam langsung menatap ke arahku yang sedang meringkuk di balik selimut, sebelum beralih ke meja nakas tempat nampan makanan sore tadi masih utuh dan mendingin. "Apa yang kau mau?" tanya Muyeol dengan suara baritonnya yang datar dan dingin. Aku mengumpulkan sisa tenaga untuk mendongak, menatap wajahnya yang tidak memperlihatkan emosi sama sekali. Air mataku kembali menetes. Aku tidak sanggup menerima takdir ini. “Ini tidak benar, Muyeol… Kita bahkan buka
Chapter 20 Kesadaranku kembali secara perlahan, ditarik paksa dari kegelapan yang pekat oleh rasa pening yang masih terasa di pangkal kepalaku. Kelopak mataku terasa berat, namun bau antiseptik yang tajam dan aroma maskulin familiar yang pekat segera memicu instingku untuk membuka mataku. Saat aku akhirnya bisa membuka mata sepenuhnya, hal pertama yang kutangkap adalah langit-langit kamar tidur utama yang megah. Aku tidak lagi berada di lantai perpustakaan yang dingin. Seseorang telah memindahkan tubuh lemasku ke atas kasur king-size beludru ini. "Mhh.. kenapa..." aku lemas Suasana di dalam kamar begitu hening. Di sisi ranjang, Bibi Jung berdiri dengan kepala menunduk, tangannya saling bertautan cemas. Di dekat nakas, seorang pria paruh baya berjas dokter formal tengah merapikan peralatan pemeriksaan dasar—seperti tensimeter dan stetoskop—ke dalam tas kulitnya. Sepertinya, aku sudah pingsan cukup lama. 'kepalaku pusing, kok aku bisa gini ya?' batinku Lalu, tepat di ujung ranja
Chapter 16 Pertanyaan Muyeol membuat lidahku seketika kelu. Aku mencengkram pinggiran rak buku kayu di sampingku dengan erat, mencoba menyeimbangkan tubuhku yang mendadak gemetar di atas tangga kecil ini. Berada di posisi yang lebih tinggi darinya sama sekali tidak membuatku merasa superior. Tatap
Chapter 15 Pagi berikutnya, demam di tubuhku perlahan mulai menyurut. Meski kepalaku masih terasa sedikit berat saat digerakkan, setidaknya cengkeraman lemas di persendianku sudah jauh berkurang. Aku mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandanga
Chapter 14 Pria kurus tinggi itu adalah mata dan telinga Muyeol yang bertugas menerjemahkan setiap kata yang akan kuucapkan kepada mama secara langsung. Jangankan mencoba mencari bantuan atau membongkar situasiku, bergerak salah sedikit saja pun, pria ini akan langsung mengetahuinya dan melaporkan
Chapter 11 Aku sengaja bertahan di perpustakaan hingga jarum jam dinding berdentang melewati tengah malam. Jemariku pura-pura sibuk merapikan kembali kamus bahasa asing dan tumpukan kertas logistik yang sebenarnya sudah selesai kuterjemahkan sejak sore tadi. Aku ketakutan. Kalimat terakhir Muyeol







