"Sistem ini terlalu sensitif. Sekali kamu salah pencet atau kelihatan sama kamera pengawas kalau kamu ngeliatin monitor ini terlalu lama, Diva bakal langsung curiga. Kamu paham kan?""Iya, Mbak... maaf," bisikku sambil menundukkan kepala, pura-pura merasa bersalah.Melihat raut wajahku yang murung, raut kaku Ciska langsung meleleh kembali. Dia menarik napas pelan, lalu merangkulkan kedua lengannya di leherku, berjinjit untuk mengecup pipiku dengan penuh penyesalan."Maaf ya... aku nggak maksud bentak kamu," bisik Ciska lembut tepat di telingaku. "Aku cuma takut banget kamu kenapa-napa. Biar aku yang pusing urus angka-angka ini, kamu cukup fokus jaga diri kamu aja, ya?"Aku mengangguk pelan di bahunya, menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi. “Ciska benar-benar yakin kalau dia lagi jadi pahlawan yang menyelamatkanku”Keesokan harinya, aku mencoba mengujinya sekali lagi lewat sudut yang berbeda.Saat sore hari, ketika Diva sedang berada di lantai bawah bersama Meyden, aku menghampi
Leer más