Aku menatap token USB dingin yang kini berada di genggamanku, lalu beralih pada Ciska yang masih menyandarkan dahinya di dadaku. Kehangatan tubuhnya dan helaan napasnya yang mulai teratur menandakan rasa percaya dan penyerahan diri sepenuhnya."Mbak Ciska yakin ngasih ini ke saya?" tanyaku pelan, memperdalam nada polosku. "Kalau Mbak Diva tahu...""Diva nggak bakal tahu," potong Ciska cepat. Dia mendongak, menatapku lurus dengan sepasang mata yang kini benar-benar bersih dari keraguan. "Dan kalaupun dia tahu, aku yang bakal pasang badan buat kamu. Mulai sekarang, kita satu tim, Kipli. Aku nggak akan merahasiakan apa pun lagi dari kamu.""Makasih ya, Mbak..." usapku lembut pada pipinya, menyulut senyum tipis di bibirnya."Aku yang harusnya terima kasih," bisik Ciska lirih. Dia mengikis jarak, mendaratkan kecupan hangat di bibirku, sebuah kecupan yang tidak lagi didasari rasa kasihan atau keinginan untuk mendominasi, melainkan keinginan untuk menyerahkan diri seutuhnya padaku.Saat Cisk
Baca selengkapnya