Aku melangkah mendekat, sengaja memasang ekspresi polos dengan sedikit sisa sisa napas lelah. "Ada apa, Mbak Diva? Muka Mbak serius banget. Padahal kita baru aja sukses besar nguras rekening si David."Diva tidak menjawab. Dia melangkah perlahan mengelilingiku, seperti seekor pemangsa yang sedang mengamati mangsanya. Ujung jarinya yang lentik menyentuh dada bidangku, mengusap pelan lapisan jas mewah yang menyelimuti tubuhku."Energimu..." bisik Diva, matanya menyipit penuh curiga. "Terlalu tenang. Terlalu teratur untuk seseorang yang baru saja melompati meja, merusak sekring, dan bertarung di kegelapan.""Ya... kan saya cuma modal nekat sama hoki, Mbak," balasku terkekeh canggung, berusaha menjaga raut wajah lugu. "Tadi itu saya panik banget, makanya sikut saya nggak sengaja kena kotak listrik.""Jangan berbohong sama saya, Kipli," potong Diva dingin. "Saya bisa merasakan getaran di dada kamu. Emosimu setelah sendirian sama Ciska di mobil tadi kelihatan beda banget, nggak seperti bias
Read more