"Kipli... ahh, bentar... letakin dulu di bawah," rintih Mayden tertahan, napasnya tersengal di telingaku saat jilatan hangatku merayap semakin turun ke area tulang selangkangnya."Katanya mau buru-buru bersihin sisa ingatan tadi, Mbak? Ini saya lagi gerak cepat," sahutku berbisik, tidak menghentikan kecupan-kecupan menuntutku pada kulit mulusnya.Mayden mendesah panjang, meremas kaus oblongku kencang. "Tapi... ugh, nggak sambil gelantungan di meja setrika juga, Kipli... ahh! Kaki aku pegel!"Aku terkekeh melihat wajah ketakutannya yang bercampur gairah. Dengan satu sentakan pelan berkat kekuatan energiku, aku menurunkan tubuh rampingnya kembali ke lantai, namun tetap mengurungnya di antara lemari pakaian."Sekarang udah enak posisinya, Mbak?" tanyaku sambil menatap matanya yang sayu di balik remang lampu neon gudang."Udah... ahh, tapi jangan kasar-kasar," bisik Mayden manja, jemarinya mulai bergerak menelusuri dadaku. "Aku mau kamu ngerasain tiap bagian tubuh aku malam ini."Aku tida
Read more