Di dalam kamar yang temaram itu, jantungku berdegup kencang dua kali lipat. Pikiran keliarku sudah melayang ke mana-mana, mengira Sora bakal menuntut jatah yang sama ekstremnya seperti Kanya di bawah tadi.Namun, bukannya mendorongku ke atas ranjang king size miliknya, Sora justru melepaskan cengkeramannya di kerah kemejaku. Dia berbalik membelakangiku, lalu menekan sebuah sakelar di dinding.Klik.Lampu sorot putih di sudut ruangan menyala terang, menyinari sebuah cermin besar seukuran tubuh yang menempel di dinding kamar. Di samping cermin itu, sudah ada sebuah meja kecil yang di atasnya terletak sebuah botol anggur dan dua gelas berkaki panjang.Sora berbalik lagi menghadapku, menyunggingkan senyum penuh kemenangan melihat mukaku yang tegang bercampur bingung."Mbak... kok ada cermin sama gelas?" tanyaku canggung, berusaha menetralkan napas."Ya buat latihan, Mas Kipli sayang," sahut Sora manja, sengaja menekankan kata 'sayang' yang terdengar begitu menggelitik di telinga. Dia mela
Baca selengkapnya