Rasa sakit yang dirasakan oleh Kaisar Raymond tidak bisa di pungkuri. Di dalam dadanya terasa ada api membakar, sakit dan perih. Andai saja ia bisa melihat benda apa yang menyakitkan itu, ingin sekali ia mengeluarkan dari dalam dadanya. Rasa sakitnya seolah menarik nafasnya, memaksanya untuk berhenti. "Aaaakkkhhh!" Kaisar Raymon berteriak kencang. Tubuhnya seolah mengeluarkan angin hingga dokumen di meja dan di rak buku bertaburan. "Apa ini yang di rasakan oleh Ratu Estelle dulu?" tanya Kaisar Raymond. Kedua tangannya menekan meja di hadapannya. Ia melihat air matanya jatuh tepat di atas meja. "Aku menangis." Ia tidak percaya bahwa ia menangis. Ia hanya menangis saat kedua orang tuanya, nenek dan kakeknya meninggal. "Aku menangis." Tok Tok Tok "Yang Mulia Kaisar, Tuan Alberto sudah datang." Kaisar Raymond menatap tajam pintu yang hanya berjarak beberapa meter saja. "Masuklah." Alberto masuk dan melihat ruangan yang tidak pantas di sebut ruangan seorang Kaisar. S
Read more