Tiga minggu berlalu bagaikan usapan angin musim semi yang perlahan mengusir sisa-sisa badai di Mansion Valerine. Lorong-lorong rumah megah yang tadinya dingin, kaku, dan dipenuhi kenangan kelam, kini perlahan hidup kembali.Sofia Valerine duduk di meja makan panjang, menatap pria yang sedang duduk di sisinya. Sosok "Aksa" yang dulu dingin, arogan, dan tak pernah menganggapnya ada, kini berubah total. Pria itu menyendokkan sup hangat ke mangkuk Sofia, menyapa para pelayan dengan senyum ramah, dan selalu mengusap lembut jemari Sofia setiap kali wanita tua itu teringat akan almarhum Rey.Sofia tak pernah mempertanyakan perubahan ajaib itu. Bagi seorang ibu yang hampir gila karena kehilangan separuh jiwanya, hadirnya "Aksa" baru yang begitu penuh kasih adalah keajaiban Tuhan yang paling ia syukuri."Aksa..." panggil Sofia parau, menatap wajah Bumi yang masih menyisakan bekas luka tipis di pelipis. "Terima kasih, Nak... terima kasih karena sudah kembali menjadi anak Mama yang baik."Bumi m
Leer más