Bumi menatap lurus pada bibir Vania yang hanya berjarak dua senti dari wajahnya, sementara senyum jahil yang tadi bertengger mulus seketika lenyap, berganti dengan kilat mata elang yang berjelaga pekat penuh intrik mesum. Pria itu tidak lagi main-main."Ja-jangan salah paham loh, ya! Aku... aku cuma tanya!" gagap Vania spontan membelalak, menyadari bahwa ia baru saja menggali lubang persembunyiannya sendiri di tengah bilik bambu yang remang-remang."Pertanyaan penting, itu, Nyonya! Jawabannya juga harus konkret, Neng Esih," bisik Bumi dengan suara berat, serak, dan sangat memabukkan, menghembuskan napas panas yang langsung menerpa bibir istrinya.Sebelum Vania sempat membalas atau melayangkan protes, bibir Bumi sudah menyambar bibirnya dalam sebuah ciuman dalam yang menuntut dan merampas oksigen. Vania menahan napasnya, jemari tangannya yang semula berniat mendorong dada bidang suaminya justru refleks melingkar, meremas kuat kain singlet putih pria itu. Sensasi hangat, kasar, dan be
Read more