"Pada siapa sebenarnya kamu cemburu semalam, Nyonya Besar? Pada Aksa yang aku perankan karena disentuh jalang itu... atau.. padaku, Bumi Ganendra?"Vania membuang wajahnya dengan beringas, menolak mati-matian intensitas tatapan yang sanggup menelanjangi sisa harga dirinya tersebut."Jangan konyol, Bumi! Aku tidak pernah cemburu," bantah Vania ketus, walau dadanya naik-turun ekstrem di balik gaun sutranya. "Aku hanya muak melihat jalang itu begitu angkuh karena menyombongkan diri berhasil mendapatkan Aksa di hadapanku! Hanya... itu saja!"Bumi menyunggingkan sebuah senyuman kecut yang teramat tipis. Ada rasa perih tak kasat mata yang mendadak menggores ulu hatinya mendengar pembelaan tersebut."Ah... Aksa rupanya," bisik Bumi lirih, suaranya mendadak berubah dingin. "Kau... ternyata begitu mencintai Aksa, ya, Nyonya?""Jaga mulutmu sebelum kurobek di tempat ini, Bumi!" desis Vania beringas, mata elangnya kembali menghunus tajam penuh kilat ancaman."Kalau kau tidak mencintainya... lalu
Read more