"Selama ini kepercayaan dia hancur juga karena keegoisan kamu mas," ucap Damar terus terang tapi tetap dengan nada pelan. Bagas menatap pria itu dengan tensi yang mulai naik di matanya. "Jadi menurut kamu semua ini salah saya? Kepergian Kania karena kesengajaan saya?" Damar tidak menghindar dari tatapan itu. Ia justru menegakkan punggungnya, memilih jujur meski risikonya membuat Bagas semakin tersulut. "Iya, mas. Sebagian besar salah kamu." "Selama ini kepercayaan dia hancur juga karena keegoisan kamu, mas." Sebasta refleks melirik keduanya, tegang. Ia tahu nada ini bukan lagi bercanda. "Udah-udah minum dulu," Sebasta berusaha menengahi. Bagas terkekeh getir. "Egois?" "Saya cuma gak pernah pandai ngomong soal perasaan. Bukan berarti saya gak peduli." "Itu dia masalahnya," potong Damar. "Mas peduli, tapi mas selalu pakai cara yang salah." Bagas terdiam. "Kamu gengsi," lanjut Damar tanpa ragu. "Mas lebih milih nyakitin dia pelan-pelan daripada jujur bilang kalau ma
Magbasa pa