Pagi itu Kania terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Sisa-sisa lelah dan hangat semalam masih membekas di tubuhnya. Ia memicingkan mata, menyesuaikan pandangan dengan cahaya matahari yang menyelinap dari sela tirai.Tangannya meraba sisi tempat tidur, dan terasa kosong.Namun seprai di sampingnya masih berantakan. Bekas lipatan, kusut, dan aroma yang tertinggal membuat dadanya menghangat. Ia menatap langit-langit kamar cukup lama, mencoba mengumpulkan ingatan.Lalu setelah ingat, ia malah tak melihat Bagas.Ia mengerutkan kening. Biasanya pria itu tidak bangun sepagi ini, apalagi setelah malam panjang seperti tadi.Belum sempat ia bangkit, pintu kamar terdengar terbuka. Kania menoleh.Di ambang pintu, Bagas berdiri dengan celana pendek olahraga hitam, sepatu lari, kaus kaki agak tinggi yang menempel di betisnya. Kaos tipis yang ia kenakan basah oleh keringat, menempel pada dada dan perutnya. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya juga belum sepenuhnya teratur."Kamu dari ma
Magbasa pa