Jujur Damar tak pernah melihat Bagas seperti ini. Terlihat seperti orang yang putus asa. "Mas, sih. Dulu gak mau akuin perasaan mas lebih cepat. Bukannya aku udah sering bilangin mas. Mbak Kania jangan di perlakuin kaya gitu. Akan ada titik lelah dia yang gak bisa kita prediksi. Dulu mungkin iya dia nurut gitu aja, tapi sekarang kita gak tahu orang bisa berubah, orang bisa jadi tegaan dan gak kaya yang kita lihat sebelumnya karena dia udah terlanjur lelah, udah terlanjur kecewa." Terang Damar. Bagas langsung terdiam, tak punya keberanian untuk mengakui itu semua. Ia membenci ini, membenci dirinya yang sulit sekali mengekspresikan perasaannya seperti ini. Hingga sering kali menutupi dirinya dengan gengsi, dan itu yang membuatnya seringkali hancur. Dan beginilah sekarang hanya rasa sesal, yang berubah jadi emosi yang tidak bisa di luapkan. "Kamu emang bener, Mar. Tapi sekarang kondisi saya kayak gini, mau gak mau ini udah jadi konsekuensinya, harus tetep saya jalani. Dan yang buat
Magbasa pa