Ia sudah berada di pintu apartemen pria itu ketika Bagas menunggunya di depan pintu. Pandangannya kembali bertemu dengan manik matanya secara lebih dekat. Fitur wajah itu sudah sangat ia hapal dalam ingatannya. Bahkan sudah hapal betul detil tubuhnya. Selama dua tahun, jelas bukan waktu yang sebentar untuk ia menghapal, bagian mana yang ia sukai, bagian mana yang membuat pria itu merasa sensitif ketika di sentuh, dan bagian mananya yang membuat ia berdebar tiap pria menempelkan padanya. Entah, perasaan yang rumit langsung bergejolak, ada rasa campuran yang sulit sekali di jelaskan, ia marah, benci, tapi ada bagian di tubuhnya yang berdebar kala ingat jemari pria itu pernah bersemayam disana, semua itu membuat ia ingin sekali berontak di depannya. Pandangan Bagas juga masih terpaku pada sosok di depannya, ia meneliti Kania dari atas hingga bawah, tak ingin melewati sesenti pun pemandangan itu yang sudah sekian lama tak ia pandangi. Seakan
Magbasa pa