Kania menuruni anak tangga rumah itu setelah ia memutuskan keluar dari kamarnya. Pengusiran yang dilakukan Bagas, serta rasa kecewa membuat keputusannya bulat. Ia tak hanya ingin keluar kamar, tapi juga ingin keluar rumah hari ini juga. Mungkin memberi ruang sebebas-bebasnya akan memberi ketenangan untuk pria itu. Di anak tangga terakhir, ia berpapasan dengan Damar. "Mbak, mau ke mana?" tanya Damar santai, sama sekali tak menangkap sesuatu yang janggal. Kania mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tipis, seolah tak ada yang terjadi. "Mau keluar bentar." "Lama nggak? Aku lagi pengin masakan kamu, lho. Hehe..." Damar terkekeh kecil, masih dengan nada bercanda. Ekspresi Kania tetap tenang. "Nggak lama kok. Bentar aja," jawabnya, walaupun ini hanya cara ia berbohong. Tak ada getar dalam suaranya. Tak ada sembab di matanya. Seakan semuanya baik-baik saja. "Yaudah, aku tunggu ya," kata Damar penuh harap. Kania hanya mengangguk. Senyumnya masih terpasang ketika ia melangkah m
Read more