LOGINRenjana menanggapi itu dengan senyum manisnya yang menimbulkan lesung pipitnya. "Gak apa-apa kok Len, aku percaya suamiku, dia pria yang sayang istri dan setia," jawab Renjana sedikit menyindir ke arah Andra, yang membuat pria itu tersenyum sambil menegakkan kepalanya. "Iya, aku tahu banget itu, Na. Kalian berdua selalu ada sliweran di media sosial sebagai pasangan yang diidam-idamkan perempuan maupun pria," balas Selena sambil terkekeh kecil, namun netranya menatap sinis ke arah Andra. Dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Naren. "Naren, makasih sudah jaga istri saya selama saya berada di kantor untuk mengurus pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan beberapa hari ini," ucap Andra lembut, sangat berbanding terbalik dengan biasanya. Naren tak ambil pusing, ia hanya mengangguk pelan sambil bangkit. "Saya tunggu di luar, Tuan." Andra mengangguk singkat. Sementara itu, Renjana tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari pria tersebut hingga sosoknya benar-benar
Renjana mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangannya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan. Nuansa putih mendominasi tempat itu, sementara aroma antiseptik yang khas memenuhi udara. Saat menoleh ke tangannya, ia mendapati sebuah selang infus telah terpasang di sana. "Renjana, kamu sudah siuman?" tanya Melinda yang saat mendengar kabar dari salah satu asistennya Renjana jika Renjana ada di rumah sakit, perempuan itu langsung datang ke rumah sakit dengan meninggalkan pekerjaannya. Mata Renjana yang selalu berbinar itu kini terlihat layu. "Hey, are you okay?" ucap Melinda lagi saat melihat Renjana hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Dia kenapa? Mana suaminya?" tanya Melinda kepada Naren. Rupanya, pria itu sudah berada di sana sejak tadi. Bahkan, dialah yang membopong Renjana dan membawanya ke tempat ini. Naren menggeleng pelan. Melinda pun mengembuskan napas panjang. "Apa ada sesuatu tentang dirinya yang gak kuketahui? Dia selalu menceritakan semuanya
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Renjana mulai sibuk dengan pekerjaannya yang semakin padat. Apalagi setiap harinya pengikutnya terus bertambah, membuat para owner berbondong-bondong ingin menggunakan jasanya. Seperti hari ini, Renjana terkulai lemas di atas kursi utama. Ia beberapa kali menghela napas saat chat dari beberapa owner terus berdatangan menawarkan harga fantastis, yang tentunya Andra tak akan membiarkan Renjana untuk menolaknya. Tring! Tring! Tring! Dering itu terus saja bermunculan di layar ponselnya, namun Renjana tak sengaja memejamkan matanya akibat kelelahan. Tak lama dari itu, tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar nyaring di lantai marmer itu menggema, membuat Renjana masih mendengarnya. Namun dengan kondisi tubuh yang begitu lelah, Renjana tak mampu membuka matanya. Bruk! Suara benturan keras di hadapannya membuat Renjana tersentak kaget. Ia sontak membuka mata, tetapi pandangannya langsung mengabur dan terasa berputar. Gerakan mend
Saat Renjana selesai dengan aktivitas mandinya, ia langsung keluar kamar dengan tubuh yang hanya memakai kimono dan kepala yang dililit handuk. Ia keluar kamar mandi dengan sangat santai, matanya sedikit terpejam saat berjalan ke arah meja rias, seolah merasakan betapa segarnya tubuhnya saat ini. Ia bahkan bersiul kecil sambil perlahan melepaskan handuknya. "Haaah... setidaknya tubuhku sedikit lebih segar, meski mungkin malam ini akan menjadi sebuah penyiksaan bagiku," gumamnya sambil menyalakan pengering rambut. Ia mengeringkan rambutnya dengan pandangan fokus ke arah ponsel. "Haduh, besok sudah harus pergi lagi, ada tawaran kerja sama live produk lagi," keluhnya pelan. Ia mematikan ponselnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke arah cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya, senyum yang bahkan jarang diperlihatkannya kepada siapa pun. Namun, saat Renjana hendak membuka kimononya, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang tampak
"Jangan gila, Naren!" rutuknya sambil melangkah lebih dulu meninggalkan Naren dengan wajah yang ditekuk masam. Naren yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil. --- Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sang suami belum juga kunjung datang. Pikiran Renjana mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan apa yang sedang suaminya lakukan bersama perempuan tadi sampai jam segini belum pulang, pikirnya resah. Setelah Naren dan Renjana pulang ke rumah, sampai saat ini Andra masih belum terlihat. Di tengah kegelisahannya, dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. "Halo, Renjana. Apa yang kamu katakan pada cucuku kemarin sampai-sampai ia mendadak menolak tinggal sementara di sini?!" serang Oma dari seberang sana sesaat setelah panggilan tersambung, bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyapa terlebih dahulu. Renjana memejamkan mata, menggenggam ponsel itu dengan erat. "Aku gak ngomong apa-apa, Oma. Hanya saja mungkin Mas An
Renjana menahan napas. Rasa kesal yang sedari tadi berusaha ia pendam akhirnya meluap, terlebih setelah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia tak lagi mampu membendung emosinya. Dengan sigap, Renjana membalikkan badan. Namun, Naren bergerak lebih cepat darinya. Pria itu segera meraih Renjana hingga tubuh perempuan tersebut terhuyung masuk ke dalam dekapannya. Dalam satu gerakan, Naren langsung menariknya turun ke bawah. Namun Renjana terus menolak, ia melawan dan berusaha melepaskan genggaman erat itu dari tangan Naren. Dengan wajah tanpa ekspresi, Naren langsung mengangkat dan membopongnya, melangkah tergesa-gesa sebelum orang-orang di sana menyadari keberadaan Renjana. Di tempat yang sepi, Naren langsung menurunkan Renjana. "Kamu apa-apaan sih, Naren?! Kenapa membawaku kesini? Aku ingin menghampiri suamiku, berhenti ikut campur terus!" desisnya kesal dengan napas yang terengah-engah. Bahkan tangan Renjana terangkat, menunjuk ke arah wajah Naren. Naren sama
Renjana menoleh dengan gugup saat menyadari wajah Naren kembali berada sangat dekat di hadapannya, memangkas habis jarak di antara mereka. Pria itu menumpu satu tangannya di badan mobil, mengunci tubuh mungil Renjana hingga ia benar-benar terpojok tanpa ruang untuk menghindar. "Tapi Naren... di
Renjana tidak melawan sama sekali. Ia menepis pikiran tentang siapa pria itu atau apa alasannya menolong. Yang terpenting baginya saat ini adalah bebas dan segera pergi sejauh mungkin dari kerumunan yang mengerikan tersebut. Setelah ditarik setengah berlari hingga ke area parkir mal yang lumayan
Renjana terus menatap tangkapan layar komentar yang sempat ia simpan tadi dengan pandangan bingung. Bahkan, sudah hampir satu jam sejak siaran langsungnya berakhir, Renjana masih bergeming di posisinya. Jarinya mencengkeram erat ponsel itu. Ia bimbang, haruskah ia menanyakan maksud dari komentar
"Jangan ceritakan apa pun lagi, dan lupakan saja semuanya! Anggap itu tidak pernah terjadi," desis Renjana, menatap serius tepat ke manik mata sang koki. Kali ini, Naren tidak tinggal diam. Ia menggerakkan jemarinya, meremas tangan Renjana yang masih berada di bibirnya. Renjana langsung tersent







