"Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi
続きを読む