Short
Takhta yang Dibayar Air Mata

Takhta yang Dibayar Air Mata

By:  AntoniaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Chapters
838views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Permaisuri ingin anak lagi." Aji Adiswara mengatakannya sambil menanggalkan pakaian tidur wanita itu. "Kamu mudah hamil, jadi hamillah sekali lagi." Sepuluh bulan kemudian, Arum Kalandra melahirkan seorang bayi perempuan. Dukun bayi memotong tali pusarnya, lalu bergegas membawa bayi itu pergi tanpa membiarkan Arum menyentuh kain bedongnya sedikit pun. Ini adalah anak kedua. Orang-orang di istana bilang, andai Permaisuri tidak terluka saat mendampingi Aji di medan perang dulu hingga membuatnya mandul, tidak akan pernah ada wanita lain yang menginjakkan kaki di istana ini. Arum, sang putri kandung Penasihat Agung, pada akhirnya hanyalah sebuah wadah yang kebetulan terpilih untuk meneruskan darah keturunan kerajaan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Tiga tahun lalu, saat dia melahirkan putra kerajaan, dia juga tidak diizinkan melihat bayinya. Aji sendiri yang menggendong anak itu pergi dan hanya menyisakan satu kalimat dingin.

"Mulai sekarang, anak ini adalah putra sah Permaisuri. Jangan berpikir yang macam-macam."

Kala itu, dia masih punya tenaga untuk menangis dan memohon, bahkan meronta ingin turun dari ranjang demi mengejar anaknya, sebelum akhirnya ditahan kuat-kuat oleh para dayang istana.

Belakangan, dia belajar memahami aturan istana. Setiap hari dia datang ke istana Permaisuri untuk memberi salam, hanya demi bisa mendengar suara celoteh sang anak dari balik tirai penyekat.

Awalnya, Aji mengizinkan, tetapi setelah Permaisuri mengeluh bahwa sang pangeran butuh ketenangan, sejak saat itu, Arum tak pernah lagi melihat anaknya.

Kini, anak keduanya pun ikut direnggut.

Dia terbaring diam di ranjang bersalin yang kotor, seperti cangkang kosong yang kehilangan jiwa, bahkan air mata pun tidak bisa mengalir lagi.

Belum genap masa nifasnya usai, kepala dayang dari istana Permaisuri sudah datang menyampaikan perintah agar Arum kembali menjalankan tradisi memberi salam pagi dan malam.

Dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, Arum memaksakan diri melangkah menuju Istana Kencana.

Di sana, Permaisuri Ranti Wirasana sedang menimang sang putri sambil mengajaknya bermain. Begitu mendongak dan melihat wajah pucat Arum, seulas senyum muncul di bibirnya. "Eh, Selir Arum sudah datang? Mukamu pucat sekali, apa kamu tidak puas padaku?"

"Hamba tidak berani."

"Baguslah." Ranti menyerahkan bayi itu kepada ibu pengasuh, lalu merapikan ujung lengan bajunya dengan perlahan.

"Karena sudah masuk ke istana, kamu harus paham tugasmu sendiri. Yang Mulia menikahimu karena melihat pengaruh Penasihat Agung Pandu di antara para pejabat. Beliau butuh keluarga kalian untuk menstabilkan istana. Sedangkan kamu ...."

Dia berhenti sejenak, senyumnya makin dalam. "Cuma sebuah alat untuk melahirkan. Memberikan putra dan putri untukku adalah satu-satunya nilai yang kamu miliki."

Di luar aula, salju mulai turun.

Ranti tiba-tiba menyudahi senyumnya. "Saat masuk tadi, dahimu agak mengernyit. Itu tandanya kamu tidak menghormatiku. Pergilah berlutut di halaman sampai kamu sadar."

Salju di atas lantai batu perlahan mulai menggenang.

Arum dipaksa berlutut di tengah salju. Dari sana, dia melihat Ranti di dalam aula sedang menggendong putri kecilnya yang baru berusia satu bulan sambil bersenandung pelan. Gerakannya begitu luwes, seolah dialah ibu kandungnya yang asli.

Rasa sakit di lututnya berubah menjadi mati rasa, hingga akhirnya benar-benar kehilangan rasa.

Saat pandangan Arum mulai gelap, dia mendengar seruan melengking dari kasim istana, "Yang Mulia telah tiba!"

Ujung jubah kuning terang melintas di sisinya, langsung melangkah masuk ke aula.

"Kenapa membiarkannya berlutut di tengah salju?" Itu suara Aji.

Ranti merajuk manja, "Hamba cuma sedang mengajarinya sedikit tata krama, tapi dia langsung memasang wajah lemah seperti itu. Yang Mulia tahu sendiri, hamba ini keturunan keluarga militer, sifat hamba blak-blakan dan tidak punya niat buruk."

Tepat sebelum pingsan, sayup-sayup Arum masih sempat mendengar suara Aji, "Sudahlah, bawa dia kembali."

Saat Arum terbangun, hari sudah senja.

Aji duduk di tepi ranjang. Begitu melihatnya membuka mata, kerutan di dahi pria itu mengendur, "Sudah sadar? Tabib bilang kamu lemas pasca melahirkan dan terkena angin dingin. Permaisuri tidak sengaja melakukannya, jangan dimasukkan ke hati."

Arum menatapnya dalam diam.

Pria ini dulunya adalah pahlawan yang gagah berani di medan perang dalam mimpi masa muda Arum. Dia pernah menulis puisi dan melukis potret pria ini.

Kini, pria itu ada di depan matanya, mengenakan jubah kebesaran Raja, tetapi mengucapkan kata-kata yang paling menyakitkan.

"Hamba mengerti." Suaranya terdengar tenang tanpa riak, "Permaisuri adalah istri pertama Yang Mulia, sudah sepatutnya hamba menghormatinya dan tidak berani menyimpan dendam sedikit pun."

Setiap ucapannya terdengar tenang dan patuh.

Aji sempat termangu.

Dalam ingatannya, Arum bukanlah sosok yang seperti ini.

Dulu, Arum akan memohon sambil berlinang air mata agar diizinkan untuk melihat anaknya. Saat permintaannya ditolak, dia akan menggigit bibir tanpa mengucap sepatah kata pun, sementara binar di matanya meredup perlahan. Namun, sekarang, tidak ada apa-apa lagi di matanya, hampa bagai air mati yang tak beriak.

"Soal anak itu," Aji membuka suara, mencoba mencari bahan pembicaraan, "dibesarkan atas nama Permaisuri dan statusnya menjadi anak sah. Kelak dia ...."

"Itu berkah bagi sang anak."

Arum memotong kalimatnya, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman. Namun, senyum itu tampak begitu kaku dan dingin. "Hamba cuma orang rendahan. Permaisuri bersedia merawat sang anak, itu adalah kemurahan hati dari Yang Mulia dan Permaisuri."

Kemurahan hati.

Tenggorokan Aji mendadak terasa tercekat.

Dari luar aula, terdengar suara kasim berkata, "Yang Mulia, Permaisuri telah menyiapkan sup ginseng buatannya sendiri. Beliau berkata cuaca ini sangat dingin, jadi beliau mengundang Yang Mulia ke sana untuk menghangatkan tubuh. Tuan Putri juga sedang menunggu Yang Mulia."

Aji bangkit berdiri, lalu melirik sekilas ke arah wanita di atas ranjang.

Arum sudah memejamkan mata, seolah-olah telah kembali tertidur.

Pria itu melangkah hingga ke ambang pintu, lalu berbalik, "Selir Arum, Permaisuri tidak bisa memiliki keturunan. Aku selalu merasa berutang budi padanya. Kamu adalah wanita yang pengertian, jadi maklumilah sedikit."

"Istirahatlah dengan baik." Aji entah mengapa merasa agak gusar. "Kalau nanti kamu hamil lagi, anak itu akan dibiarkan tetap bersamamu untuk kamu besarkan sendiri."

Arum tidak menanggapi ucapan itu. Dia hanya menatap langit-langit kelambu dalam diam sembari mendengarkan langkah kaki pria itu yang perlahan menjauh.

Setelah keheningan yang cukup lama, dia tiba-tiba bertanya dengan suara lirih kepada dayang yang berdiri di samping, "Sudah tiga tahun semenjak Yang Mulia naik takhta, 'kan?"

"Benar, Nyonya."

"Apa negeri ini sudah aman dan damai?"

"Perbatasan utara sudah aman. Banjir di wilayah selatan juga telah diatasi. Di dalam istana, Penasihat Agung Pandu memimpin para pejabat sipil. Meskipun sesekali ada perselisihan dengan kubu militer, tetapi secara keseluruhan suasananya stabil."

Arum perlahan-lahan tersenyum.

Senyuman itu begitu layu dan rapuh, bagai selembar daun kering terakhir di penghujung musim kemarau.

"Baguslah."

Dia berkata dengan lirih, "Akhirnya, aku bisa mati dengan tenang."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
semua lunas dan terbalaskan
2026-06-15 01:29:55
0
0
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status