Namun Zahra dengan cepat mengulas senyum. "Tapi alhamdulillah, saya beruntung sekali, Bang. Papa sambung saya, papanya Aurel itu orangnya luar biasa baik. Beliau memperlakukan saya persis seperti anak kandungnya sendiri. Nggak pernah membeda-bedakan saya dengan Aurel. Kasih sayangnya tulus."Zein manggut-manggut penuh perhatian. "Alhamdulillah kalau begitu. Mbak, memiliki keluarga yang harmonis.""Iya, Bang. Di Tulungagung dan daerah Papar sana, Bunda saya juga mengelola toko roti. Jualan donat juga, lho," cerita Zahra dengan binar bangga di matanya.Mendengar kata 'donat', jiwa Zein yang menyamar mendadak terusik secara jenaka. Ia menunjuk gerobak putihnya sendiri dengan jempol tangan. "Wah, menarik ini. Kalau boleh jujur, donat di toko Bundanya Mbak Zahra, kalau dibanding dengan donat dagangan saya ini, enak mana?"Zahra tertegun sejenak. Ia menatap Zein, lalu menatap kotak donat di tangannya. Dengan wajah tanpa dosa dan kejujuran yang biasa ia terapkan. Zahra menjawab, "Hmm, kalau
Leer más