Maria berulang kali mengingatkan, meminta Rangga untuk menggunakan pengaman untuk jaga-jaga. Namun dengan senyum manis yang meruntuhkan pertahanan, Rangga selalu menjawab, "Tenang saja, Sayang. Tidak akan hamil dalam waktu dekat. Mas tahu cara mainnya."Main apa coba? Nyatanya hari ini dua garis merah itu terpampang nyata tanpa bisa dibantah.Saat Maria tengah berdiri melamun dengan dada yang bergemuruh menahan kesal, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, disusul sebuah suara hangat yang seketika membuatnya menoleh."Ada apa, Sayang? Melamun di depan jendela pagi-pagi begini?" tanya Rangga yang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tersenyum lebar, tampak segar dengan kaos polo kasualnya. Di lengan kanannya menggendong Yusuf yang sibuk makan biskuit, sementara Ibrahim terdengar bermain di halaman dengan kakak sepupunya.Melihat wajah tanpa dosa suaminya, rasa ingin marah di dada Maria mendadak memuncak ke ubun-ubun. Ia menatap tajam, setajam silet, tepat ke arah bola mata lelaki
Read more