Isabela mematung. Menunduk menatap nodanya. Lalu mendongak.Seorang wanita berdiri di depannya, gaun merah tua yang jatuh sempurna, rambut pirang tertata tanpa satu helai pun yang berani melenceng, wajah cantik dengan senyum yang sudah terpasang bahkan sebelum kata pertama keluar."Oh," wanita itu melirik gaun Isabela sekilas, cepat, ringan, tapi tidak ada yang terlewat, lalu kembali menatapnya."Maaf, aku tidak melihatmu.""Tidak apa-apa." Isabela menggeleng kecil.Wanita itu mengeluarkan sapu tangan dari clutch-nya dan mulai menepuk-nepuk sisi gaun Isabela dengan gerakan yang terasa perhatian. Isabela tidak sempat menolak.Sedetik, dua detik, mata wanita itu bergerak pelan. Dari gaun. Ke wajah. Naik turun dengan cara yang sangat santai, sangat wajar, sampai Isabela merasa sedikit tidak nyaman."Kau sekretaris Cane?"Isabela berkedip. Cane, bukan Tuan Barrone, bukan Presiden Cane. Hanya Cane, diucapkan seperti nama yang sudah sangat lama wanita ini kenal."Ah, iya." Isabela menjawab r
Read more