登入SINOPSIS Isabela Mareu tidak pernah bermimpi hidupnya akan berubah hanya karena sebuah kecelakaan kecil di jalanan Rio de Janeiro — malam itu ia menabrak seorang pria asing, menempelkan plester kartun di wajahnya, lalu pergi begitu saja tanpa tahu siapa yang baru saja ia sentuh. Setahun kemudian, ia diterima bekerja sebagai sekretaris eksekutif di BRN Corporation — perusahaan terbesar di Brasil yang menguasai hampir seluruh sektor bisnis di negara itu. Di sinilah Isabela mengenal Santino Cane Barrone — pria yang namanya dihargai dengan ketakutan mutlak. Bukan sekadar penguasa — ia adalah hukum itu sendiri. Di tangannya, politik, dunia legal dan ilegal bergerak layaknya bidak catur yang diatur sesuka hati. Dan untuk pertama kalinya — pria itu tertarik pada seseorang. Pada gadis ceroboh yang bahkan tidak tahu betapa berbahayanya dunia yang baru saja ia masuki. Yang tidak Isabela sadari, penerimaannya bekerja di BRN bukanlah kebetulan. Dan ketika ancaman mulai datang dari berbagai arah — ia menyadari bahwa keluar dari dunia Santino Cane Barrone tidak semudah masuknya. Karena pria itu tidak pernah melepaskan apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya *** "Kau tidak punya pilihan, Isabela. Kau tidak pernah punya." — Santino Cane Barrone ⚠️ PERINGATAN Cerita ini sepenuhnya fiktif dan merupakan murni karangan author. Seluruh nama, karakter, tempat, kejadian, dan organisasi yang ada di dalam cerita ini tidak ada hubungannya dengan kejadian nyata manapun. Kesamaan nama atau kejadian hanyalah kebetulan semata. Cerita ini dibuat semata-mata untuk hiburan dan tidak bermaksud untuk merepresentasikan atau membenarkan tindakan apapun yang ada di dalamnya. © All Rights Reserved — RAJJA-M
查看更多Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti genangan air yang tenang, atau cermin retak yang masih berusaha menunjukkan dunia apa adanya.
Sesekali sebuah kendaraan melintas cepat, lalu lenyap ditelan kesunyian. Malam menyimpan segalanya dalam pelukannya—termasuk hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.
Di tengah keheningan itu, sebuah taksi kuning bergaris biru tiba-tiba tersentak. Mesinnya mati.
Sopir mengumpat lirih, memutar kunci kontak berkali-kali, namun yang menyambutnya hanya bunyi klik kering yang menghina. Di kursi belakang, dua rekan Isabela mulai melayangkan protes—suara mereka saling beradu dengan pembelaan sang sopir yang bersikeras mesinnya baru diperbaiki kemarin. Perdebatan itu tidak ada yang menang, dan tidak ada yang peduli.
Isabela tidak ikut bicara.
Kepalanya terasa seringan kapas, dunianya sedikit miring, seolah bumi baru saja bergeser satu derajat dari porosnya. Tanpa suara, tanpa pamit, ia membuka pintu dan turun ke jalanan.
Langkahnya mengambang—bukan karena ia melangkah dengan pasti, tapi karena kesadarannya yang mulai menipis akibat alkohol. Di belakangnya, suara perdebatan itu makin memudar, terdengar seperti gumaman dari bawah permukaan air yang dalam. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kap mobil yang mogok.
Tak. Tak. Tak.
Tumit sepatunya mengetuk trotoar dengan ritme yang lamban. Isabela mengerjapkan mata, mencoba fokus pada jalanan di depan, namun lampu-lampu jalan tampak memuai—berpendar lebar seperti barisan bulan kembar yang mengawasinya dengan sabar.
"Kenapa jalannya sangat panjang…"
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Beberapa menit berlalu. Bangunan-bangunan mulai jarang. Suara kota memudar sepenuhnya. Udara berubah lebih dingin, lebih lembap, membawa aroma yang tajam dari arah yang tidak ia kenal.
Langkahnya terhenti.
Alisnya berkerut samar.
"Bau amis…"
Ia melangkah lagi—
Bruk.
"Auu…"
Tubuhnya menabrak sesuatu yang kokoh. Bukan tembok yang dingin. Bukan tiang besi yang keras. Sesuatu itu terasa hangat dan tegap—seperti menabrak dinding yang memiliki napas.
Isabela mendongak dengan wajah kesal. Perlahan, dengan gerakan yang lebih lambat dari seharusnya, ia mengangkat jari telunjuknya dan menusuk-nusuk dada pria di depannya—tepat di atas jantungnya—seolah sedang memastikan bahwa objek besar ini benar-benar nyata.
"Apa ini… sangat keras…"
Tatapannya bergerak naik. Perlahan. Berat.
Sosok pria itu berdiri menjulang, menciptakan bayangan yang seolah menelan seluruh raga Isabela dalam kegelapan. Di bawah pencahayaan yang minim, wajahnya tampak samar—siluet yang diam dan sama sekali tidak bergeming. Namun Isabela bisa merasakan sepasang mata gelap yang menatapnya tajam dari ketinggian itu. Tatapan yang sangat dalam, sangat tenang, dan sangat mengintimidasi—seolah mampu menembus benaknya tanpa meminta izin.
Napas Isabela tersentak.
"… Iblis."
Kata itu keluar seperti bisikan polos seorang anak kecil yang baru saja melihat monster di balik pintu.
"Jangan lihat aku seperti itu… menakutkan," gumamnya pelan, bibirnya sedikit mengerucutkan diri karena terintimidasi.
Dan di situlah, meski dalam pengaruh alkohol yang cukup berat untuk merobohkan orang dewasa, sesuatu di dalam diri Isabela mengaktifkan mode darurat.
Di wajah pria itu—tepat di pipinya—terdapat bercak merah segar. Dalam benak Isabela yang sedang kacau, hanya ada satu kesimpulan logis: pria menyeramkan ini baru saja mengalami kecelakaan hebat.
Ekspresinya berubah. Dari kesal, menjadi sangat heroik.
Dengan gerakan rusuh namun penuh tekad, ia mulai menggeledah tas kecilnya. Tangannya masuk dan keluar dari berbagai kantong, hampir bergulat dengan isi tasnya sendiri, sampai akhirnya—setelah hampir semenit penuh perjuangan—ia berhasil mengeluarkan selembar plester luka bergambar kartun yang mencolok.
Dengan jemari yang sedikit gemetar namun tidak tergoyahkan, Isabela berjinjit.
"Sstt… diam ya, jangan bergerak," bisiknya serius, sambil menempelkan plester itu tepat di dahi sang pria dan menepuk-nepuk permukaannya agar merekat kuat.
Isabela tidak menyadari bahwa ia baru saja menempelkan plester lucu di atas sisa percikan darah orang lain yang sudah mengering di wajah sang 'iblis'. Ia tidak menyadari pula bahwa noda merah di blazer pria itu kini telah berpindah ke bajunya, dan tangannya ikut ternoda oleh sisa darah yang masih basah di wajah pria tersebut.
Di kegelapan di belakang pria itu, beberapa bayangan kekar bergerak maju secara refleks—siap menarik kasar gadis konyol yang baru saja berani menyentuh bos mereka.
Namun pria itu mengangkat tangannya. Satu gerakan kecil. Pelan. Hampir tidak terlihat.
Sarung tangan hitamnya menahan udara. Cerutu yang masih menyala di sela jarinya meninggalkan jejak asap tipis.
Para bawahannya kembali mematung—kali ini dalam kebingungan yang tidak mereka ungkapkan.
Sunyi kembali berkuasa.
Lalu ponsel di dalam tas Isabela berdering keras. Kesadarannya yang rapuh langsung teralih. Ia berbalik begitu saja—tanpa permisi, tanpa melihat ke belakang—dan mulai berjalan lagi dengan langkah yang masih goyah, mengangkat teleponnya seolah adegan tadi tidak pernah terjadi.
"Halo… Ayah…"
Suara ayahnya terdengar berderak penuh kecemasan.
"Bela? Kau di mana sayang? Teman-temanmu bilang kau hilang!"
"Di jalan…"
"Jalan apa? Beri Ayah patokan!"
"Sebentar… aku cari dulu…"
Isabela menyipitkan mata, menatap ke arah pelabuhan yang gelap di kejauhan. Ia terus berjalan menjauh, perlahan tertelan kabut malam.
Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Diam. Tidak bergerak. Plester kartun itu masih menempel di dahinya—absurd di tengah wajah yang sekeras batu karang.
Ia menghisap cerutunya dalam-dalam. Mengembuskan asap tipis ke udara malam. Matanya mengikuti punggung kecil Isabela yang perlahan menghilang dari pandangan—langkah demi langkah, sampai bayang-bayang malam menelannya sepenuhnya.
Ia tidak memalingkan pandangan sampai sosok itu benar-benar lenyap.
Ruangan itu tidak punya nama resmi di dalam sistem manapun.Tidak ada di denah gedung, tidak ada di dokumen perizinan, tidak ada di catatan apapun yang bisa ditemukan oleh orang yang tidak seharusnya menemukannya. Dindingnya beton bertulang, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya ventilasi adalah sistem sirkulasi udara yang mendengung pelan di balik panel baja di dinding belakang. Meja di tengahnya panjang dan berat — kayu gelap tanpa ornamen, tanpa keanggunan yang tidak perlu. Kursi-kursi di sekelilingnya terisi.Delapan orang.Delapan kepala divisi yang masing-masing mengendalikan satu urat nadi dari tubuh organisasi ini — jalur laut, distribusi darat, keuangan, pengamanan, intelijen, operasi lapangan, kontrak sipil, dan satu kursi di ujung kiri yang ditempati oleh pria dengan rambut mulai memutih di pelipisnya yang tidak pernah menatap langsung ke ujung meja berlawanan.Karena di ujung meja berlawanan, Cane duduk.Satu tangan di atas meja, jarinya tidak bergerak. Tangan lainnya
Isabela membuka matanya pelan.Langit-langit putih. Tirai yang masih tertutup rapat dengan sedikit cahaya memaksa masuk dari celah tipis di tengahnya.Ia meraih ponselnya dari meja samping — refleks, bahkan sebelum benar-benar sadar sepenuhnya.Layar menyala.Tidak ada notifikasi.Ia mengerutkan dahi. Jempolnya bergerak — membuka pesan, menggulir ke atas, memastikan tidak ada yang terlewat. Tidak ada. Nama yang ia cari tidak ada di sana. Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda baca kecil yang menunjukkan seseorang sedang mengetik.Theo.Isabela meletakkan ponselnya kembali ke meja.Pelan — terlalu pelan untuk sekadar malas."Ck."Satu suara kecil untuk dirinya sendiri. Ia menatap langit-langit sebentar — lalu memutuskan tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang, dan bangkit.— ✵ —Kamar mandi itu bersih dan dingin dengan cara yang menyenangkan.Ia berdiri di bawah air hangat lebih lama dari yang diperlukan — bukan karena ada yang perlu dipikirkan, tapi kadang hangat itu sendiri sudah c
Lift itu berhenti di lantai yang benar.Cane melangkah keluar lebih dulu — Dante dua langkah di belakangnya, seperti biasa, seperti selalu. Koridor hotel itu sepi di jam seperti ini, lampu-lampu dinding menyala redup, karpet tebal yang meredam suara langkah sampai tidak ada.Di depan pintu suite, dua orang berdiri di posisi mereka — tegak, tidak bergerak, mata lurus ke depan. Mereka mengangguk saat Cane mendekat.Cane berhenti."Di mana dia?""Di dalam, Tuan.""Sudah makan malam?""Sudah dari tadi, Tuan."Cane tidak menjawab lagi. Mengambil kartu kunci dari saku dalamnya, membuka pintu, masuk.— ✵ —Suite itu tenang.Lampu ruang tengah masih menyala — redup, bukan terang penuh, seperti seseorang menyalakannya untuk berjaga-jaga lalu lupa mematikannya sebelum tidur. Di meja kecil dekat sofa ada gelas kosong dan bungkus sesuatu yang sudah dilipat rapi ke tepinya.Tidak ada suara dari mana pun.Cane melepas jasnya. Meletakkannya di sandaran kursi. Matanya bergerak ke arah pintu kamar Isa
"Tujuh puluh."Marco tertawa — pendek, genuine, seperti orang yang mendengar sesuatu yang menggelikan. "Cane. Kita bicara empat blok lepas pantai. Aku yang urus semuanya dari awal — perizinan, orang-orangnya, pemilik lamanya." Ia berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati. "Semua proses itu ada harganya. Kau paham itu.""Aku paham." Cane mengangguk pelan. "Dan jaringan distribusinya milikku. Tanker-tankernya milikku. Dermaga transit-nya milikku." Ia memiringkan kepala sedikit. "Kau bisa jual minyak itu ke siapa tanpa semua itu, Marco?"Senyum Marco tidak hilang — tapi berubah. Sedikit. Seperti sesuatu di baliknya sedang menyesuaikan diri."Baiklah. Enam puluh empat puluh." Ia mencoba lagi. "Itu batas yang masuk akal.""Tujuh puluh.""Cane—""Tujuh puluh."Hening.Marco menatapnya — lama, dengan cara orang yang sedang menimbang. Dua pria di sampingnya tidak bergerak, tidak bersuara, tidak memberikan apapun untuk dibaca.Lalu Marco tersenyum lagi — kali ini berbeda. Lebih tipis. L
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.