The Devil's Little Secretary

The Devil's Little Secretary

last update最後更新 : 2026-10-27
作者:  RAJJA-M 已完成
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
16 評分. 16 評論
171章節
5.2K閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Dark Romance

Cinta yang Manis

Drama

Bos / CEO

Sekretaris

Mafia

Romansa Kantor

Cinta pada Pandangan Pertama

Perbedaan Usia

Santino Cane Barrone tidak pernah meminta. Ia mengambil, tanpa sisa, tanpa ampun. Politik, bisnis, hingga dunia bawah tanah bergerak di tangannya layaknya bidak catur. Sampai satu malam, pertemuan tak terduga dengan seorang gadis ceroboh membuatnya menginginkan sesuatu untuk pertama kalinya. Isabela tidak tahu, diterimanya ia bekerja di Barrone Corporation bukanlah kebetulan. Kini ia tidak hanya bekerja untuk seorang bos. Ia sedang dijaga, diawasi, dan tidak akan pernah dilepaskan oleh pria itu. "Kau tidak punya pilihan, Isabela. Kau tidak pernah punya." ⚠️ PERINGATAN: Cerita ini sepenuhnya fiktif dan merupakan murni karangan author. Seluruh nama, karakter, tempat, kejadian, dan organisasi yang ada di dalam cerita ini tidak ada hubungannya dengan kejadian nyata manapun. Kesamaan nama atau kejadian hanyalah kebetulan semata. Cerita ini dibuat semata-mata untuk hiburan dan tidak bermaksud untuk merepresentasikan atau membenarkan tindakan apa pun yang ada di dalamnya. © All Rights Reserved | RAJJA-M

查看更多

第 1 章

BAB 1

Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia, lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan, seperti genangan air yang tenang, atau cermin retak yang masih berusaha menunjukkan dunia apa adanya.

Sesekali sebuah kendaraan melintas cepat, lalu lenyap ditelan kesunyian. Malam menyimpan segalanya dalam pelukannya, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.

Di tengah keheningan itu, sebuah taksi kuning bergaris biru tersentak. Mesinnya mati.

"Astaga." Sopir menghantam kemudi dengan telapak tangannya. Ia memutar kunci kontak berkali-kali, namun yang menyambutnya hanya bunyi klik kering yang menghina. 

"Kita harus bagaimana sekarang?" Di kursi belakang dua rekan rekan isabela mulai melayangkan protes, suara mereka saling beradu dengan pembelaan sang sopir yang bersikeras mesinnya baru diperbaiki kemarin. perdebatan itu tidak ada yang menang, dan tidak ada yang peduli.

Isabela tidak ikut bicara.

Kepalanya terasa seringan kapas, dunianya sedikit miring, seolah bumi baru saja bergeser satu derajat dari porosnya. Tanpa suara, tanpa pamit, ia membuka pintu dan turun ke jalanan.

Langkahnya mengambang, bukan karena ia melangkah dengan pasti, tapi karena kesadarannya yang mulai menipis akibat alkohol. Di belakangnya, suara perdebatan itu makin memudar, terdengar seperti gumaman dari bawah permukaan air yang dalam. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kap mobil yang mogok.

Tak. Tak. Tak.

Tumit sepatunya mengetuk trotoar dengan ritme yang lamban. Isabela mengerjapkan mata, mencoba fokus pada jalanan di depan, namun lampu-lampu jalan tampak memuai, berpendar lebar seperti barisan bulan kembar yang mengawasinya dengan sabar.

"Kenapa jalannya sangat panjang…"

Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia hanya ingin udara. Sedikit udara segar. Itu saja.

Beberapa menit berlalu. Bangunan-bangunan mulai jarang. Toko-toko telah tutup, hanya menyisakan cahaya redup dari beberapa jendela. Suara kota memudar sepenuhnya, digantikan bunyi ombak yang samar dari kejauhan. Udara berubah lebih dingin, lebih lembap, membawa aroma tajam dari arah yang tidak ia kenal.

Langkahnya terhenti.

"Bau amis…" gumamnya, alisnya berkerut samar.

Ia tidak mengenali tempat ini. Namun alih-alih kembali, kakinya justru terus melangkah, seolah punya kehendak sendiri.

— ✵ —

Di sebuah gudang tua dekat pelabuhan, pintu setengah terbuka membiarkan cahaya putih menyentuh lantai beton yang basah. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri berjajar, kepala tertunduk.

"Sudah beres, Tuan," ujar salah satu dari mereka. "Barangnya sudah siap dikirim ke São Paulo malam ini juga."

Pria itu berdiri beberapa langkah di depan mereka. Tinggi, tegap, setelan hitamnya nyaris sempurna meski udara malam begitu lembap. Sebatang cerutu menyala di sela jarinya, asap tipis mengikuti arah angin.

"Kapal yang mana?"

"Sama seperti biasa, Tuan. Kapal Dona Lúcia, berangkat sebelum subuh."

"Amankan jalur kontainer setelah keluar dari Santos. Aku tidak mau ada satu pun gangguan."

"Sudah kami atur, Tuan."

Ia mengangguk singkat. Tatapannya bergeser sejenak ke sosok yang tergeletak diam di sudut lantai, lalu kembali dingin seperti semula.

"Sudah selesai?"

"Sudah, Tuan."

Ia berbalik, hendak pergi. Namun langkahnya terhenti tanpa alasan yang jelas.

Tak. Tak. Tak.

Suara langkah kaki, samar, dari luar gudang.

Salah satu anak buahnya refleks meraih bagian dalam jasnya. "Siapa itu?"

Pria itu mengangkat satu tangan. Diam. Isyarat itu cukup untuk membekukan seisi ruangan.

Langkah itu semakin dekat, lalu berhenti di ambang cahaya. Seorang perempuan berdiri di sana, rambutnya berantakan tertiup angin laut, langkahnya tidak stabil seperti setiap pijakan membutuhkan pertimbangan yang berat.

Pria itu menatapnya.

Perempuan itu menatap balik, namun matanya tidak benar-benar fokus, seolah sedang berusaha keras memastikan sosok di depannya nyata atau hanya bagian dari kabut yang mengaburkan penglihatannya.

Ia melangkah maju. Tanpa ragu. Tanpa sadar ke mana ia melangkah.

Bruk.

"Auu…"

Tubuhnya menabrak dada pria itu, keras dan tegap seperti menabrak dinding yang memiliki napas. Ia bahkan tidak bergeser setengah langkah.

Isabela mendongak dengan wajah kesal. Perlahan, dengan gerakan yang lebih lambat dari seharusnya, ia mengangkat jari telunjuknya dan menekan-nekan dada pria di depannya, tepat di atas jantungnya, seolah sedang memastikan bahwa objek besar ini benar-benar nyata.

"Keras sekali…" gumamnya, nyaris seperti keluhan seorang anak kecil.

"Apa?" Pria itu menunduk sedikit, suaranya rendah, datar.

"Ini." Isabela menekan dadanya sekali lagi, seakan itu jawaban yang cukup jelas.

Beberapa anak buah di belakang saling melirik. Tidak ada satu pun yang berani tertawa.

Isabela mendongak lebih tinggi, berusaha melihat wajah pria di hadapannya, namun penglihatannya kembali berbayang, silau oleh sisa cahaya lampu gudang.

Sosok itu berdiri menjulang, menciptakan bayangan yang seolah menelan seluruh raganya dalam kegelapan. Namun Isabela bisa merasakan sepasang mata gelap yang menatapnya tajam dari ketinggian itu. Tatapan yang sangat dalam, sangat tenang, dan sangat mengintimidasi, seolah mampu menembus benaknya tanpa meminta izin.

Napas Isabela tersentak.

"… Iblis," bisiknya polos, seperti anak kecil yang baru saja melihat monster di balik pintu. "Jangan lihat aku seperti itu… menakutkan," gumamnya lagi, bibirnya mengerucut sedikit.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan, seolah menunggu apa yang akan dilakukan perempuan aneh ini selanjutnya.

Dan di situlah, meski dalam pengaruh alkohol yang cukup berat untuk merobohkan orang dewasa, sesuatu di dalam diri Isabela mengaktifkan mode darurat.

Matanya menangkap bercak merah segar di pipi pria itu. Dalam benaknya yang kacau, hanya ada satu kesimpulan logis: pria menyeramkan ini baru saja mengalami kecelakaan hebat.

Ekspresinya berubah. Dari kesal, menjadi sangat heroik.

"Tunggu… jangan bergerak," ujarnya serius, mulai menggeledah tas kecilnya dengan gerakan rusuh. Tangannya masuk dan keluar dari berbagai kantong, hampir bergulat dengan isi tasnya sendiri, sampai akhirnya ia berhasil mengeluarkan selembar plester luka bergambar kartun beruang.

Pria itu memperhatikan gerakannya tanpa ekspresi. Salah satu anak buahnya bergerak setengah langkah. "Tuan."

Ia mengangkat tangan sekali lagi. Tidak.

Isabela berjinjit. "Sstt… diam ya," bisiknya, lalu menempelkan plester itu tepat di dahi pria itu, menepuk-nepuk permukaannya agar merekat kuat.

Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menempelkan plester lucu itu di atas sisa percikan darah orang lain yang sudah mengering. Ia juga tidak menyadari noda merah di blazer pria itu kini berpindah ke bajunya sendiri, dan tangannya ikut ternoda oleh sisa darah yang masih sedikit basah.

Di kegelapan di belakang pria itu, beberapa bayangan kekar bergerak maju secara refleks, siap menarik kasar perempuan konyol yang baru saja berani menyentuh bos mereka.

Pria itu mengangkat tangannya lagi. Satu gerakan kecil. Pelan. Hampir tidak terlihat, tapi cukup.

"Biarkan dia."

Suaranya rendah, namun setiap orang di ruangan itu tahu itu bukan sekadar perintah biasa.

Para anak buahnya kembali mematung, kali ini dalam kebingungan yang tidak mereka ungkapkan.

Isabela sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja hampir terjadi padanya. Ia menepuk plester itu sekali lagi, puas dengan hasil kerjanya sendiri.

"Sudah," gumamnya, tersenyum kecil dan bangga, seolah baru saja menyelesaikan tugas yang sangat penting.

Pria itu menatapnya lama. "Siapa namamu?"

Isabela mengerjap. Butuh beberapa detik sebelum pertanyaan itu benar-benar sampai ke otaknya yang sedang berkabut. "…Isabela," jawabnya akhirnya, pelan, seperti baru mengingat nama sendiri.

"Isabela siapa?"

Ia mengerutkan kening, mencoba berpikir, namun pikirannya seperti tergelincir sebelum sempat menemukan jawabannya. "…lupa," gumamnya jujur, lalu terkekeh kecil pada dirinya sendiri.

Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan wajah itu, bingung dan kikuk, sama sekali tidak menyadari di mana ia berdiri atau siapa yang ada di hadapannya.

Ponsel di dalam tas Isabela berdering keras. Kesadarannya yang rapuh langsung teralih. Ia meraba-raba tasnya, hampir menjatuhkannya sebelum berhasil mengangkat panggilan.

"Halo… Ayah…"

Suara ayahnya terdengar berderak penuh kecemasan. "Bela? Kau di mana sayang? Teman-temanmu bilang kau hilang!"

"Di jalan…"

"Jalan apa? Beri Ayah patokan!"

"Sebentar… aku cari dulu…"

Isabela berbalik begitu saja, tanpa permisi, tanpa melihat ke belakang, dan mulai berjalan menjauh dengan langkah yang masih goyah, menyipitkan mata mencari sesuatu yang bisa ia sebutkan sebagai patokan.

Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Diam. Tidak bergerak. Plester kartun itu masih menempel di dahinya, absurd di tengah wajah yang sekeras batu karang.

"Tuan." Salah satu anak buahnya akhirnya memberanikan diri bicara. "Haruskah kami mengejarnya?"

Pria itu tidak segera menjawab. Tangannya terangkat, menyentuh plester di dahinya sendiri. Jarinya berhenti di sana.

"Ikuti dia," ujarnya akhirnya. "Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya."

"Baik, Tuan."

Ia menghisap cerutunya dalam-dalam, mengembuskan asap tipis ke udara malam. Matanya mengikuti punggung kecil Isabela yang perlahan menghilang dari pandangan, langkah demi langkah, sampai bayang-bayang malam menelannya sepenuhnya.

Ia tidak memalingkan pandangan sampai sosok itu benar-benar lenyap.

Perlahan, ia melepas plester itu dari dahinya. Ditatapnya gambar beruang kecil yang tersenyum cerah di telapak tangannya, sesuatu yang begitu konyol, begitu tidak pada tempatnya di antara darah dan senjata malam itu.

"Isabela," gumamnya pelan, nyaris tertelan angin malam.

Ia memasukkan plester itu ke dalam saku jasnya.

展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

評論更多

Baby Boy
Baby Boy
Kak, bagus cerita nya. Seru, kisah cinta Cane & Isabela menarik. Suka karakter Cane.
2026-10-27 21:01:21
1
0
Tati S
Tati S
ceritanya mendebarkan bikinpenasaran semangat terus thoor
2026-10-22 19:58:39
0
0
Tati S
Tati S
othor syg mana dong upnya udah lama loh ditunggu ...
2026-10-22 19:57:27
0
0
ika.wiratmadja1084
ika.wiratmadja1084
kapan lanjut kak
2026-10-22 00:18:06
0
0
Rose Mary
Rose Mary
babnya yg banyak yaa kak... ceritanya jangan cepet tamat...
2026-10-14 09:55:41
0
0
171 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status