Suasana kantor Paramita Group siang itu sebenarnya berjalan normal. Ara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop sambil menandatangani beberapa dokumen yang baru saja dikirimkan oleh tim keuangannya.Ia mengenakan blazer krem dengan rambut terurai rapi, penampilan profesional yang mencerminkan posisinya sebagai putri pemilik perusahaan sekaligus sebagai kepala arsitek.Ketukan pintu terdengar cepat, disusul langkah tergesa.“Nona Ara,” Julian, asisten pribadi Papa Hendra, masuk dengan wajah sedikit panik.“Ada tamu yang lancang, saya sudah berusaha mencegah, tapi dia memaksa masuk.”Ara mengangkat wajahnya.“Siapa, Julian?”Julian menelan ludah.“Kania Elara.”Nama itu membuat Ara berhenti menulis. Dia tau Kania siapa, seorang model high-fashion. Ia menatap Julian beberapa detik, lalu menghela napas pelan.“Tidak apa-apa,” katanya tenang.“Izinkan saja dia masuk.”Julian terlihat ragu, namun tetap mengangguk.“Baik, Nona.” Ia mundur perlahan dan menutup pintu.Beberapa detik
Leer más