Ara menatap nampan kosong di depannya, menarik napas panjang, dan perlahan menegakkan punggung. Ia mencoba menyusun pikirannya. Di satu sisi, Dion perjodohan yang ia tahu akan membawanya pada rasa sakit lama. Di sisi lain, Elvano pria yang misterius, tegas, dan dominan, menawarkan jalan keluar dari masalahnya, tetapi dengan harga yang sama besar, menikah dalam perjodohan kontrak.“Ini… tidak mudah,” gumam Ara, suaranya hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Ia menekankan satu hal di hatinya, apapun yang terjadi, ia harus tetap rasional.“Aku harus berpikir dengan kepala dingin. Tidak ada perasaan yang boleh mengacaukan keputusan ini.”Elvano mengamati setiap gerakan Ara. Ia tidak tersenyum, tidak tergesa, hanya diam, seakan menunggu Ara menemukan jawaban sendiri. Namun ada aura yang jelas, tawaran itu bukan sekadar lelucon atau main-main. Ini adalah ultimatum yang serius, dan hanya Ara yang bisa menentukan hasilnya.Ara menatap pria itu sekali lagi, matanya menembus tatapan Elv
Leer más