“Kamu nampak begitu kesepian, Wulan,” bisik Yudha. Suara pria itu begitu pelan namun telah cukup untuk menusuk-nusuk dada Wulan.Mendengar ucapan Yudha, Wulan hendak segera berlari. Namun, selain karena jemari Yudha yang masih mencengkramnya erat, ia masih terpana dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan.Wulan kembali berdiam diri, menikmati setiap hembusan nafas Yudha yang menerpa pipi. Menikmati bisikan pria itu yang menggoda. Tak berselang lama, Wulan merasa jika ia memang telah terlalu lama tak menerima sentuhan laki-laki, diam-diam ia mengabsahkan kata-kata Yudha. ‘Kau benar, Yudha. Aku memang kesepian. Aku rindu dibelai seorang laki-laki,’ batin Wulan. 'Tapi aku punya suami. Dan kau kekasih sahabatku.’Terbuai lamunan, Wulan tak sadar jika bibir hangat Yudha telah menyentuh kulit pipinya. Begitu sadar, bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang, dan nafasnya kian memburu.“Wulan,” bisik Yudha lagi.“Jangan gila, Yudha. Ada Sari di rumah ini,” sahut Wulan lirih.
最終更新日 : 2026-05-29 続きを読む