MasukMerantau ke kota, Wulan berharap menemukan kehidupan baru. Namun, langkahnya justru membawanya ke pusaran pengkhianatan sahabat, cinta terlarang, dan jebakan hasrat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari perselingkuhan yang ia saksikan sendiri, hingga rayuan yang menjeratnya dalam hubungan gelap, Wulan terus terombang-ambing antara cinta, kesetiaan, dan keputusasaan. Ketika rahasia demi rahasia terbongkar, Wulan mendapati dirinya terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan sahabat karib, suami, dan majikan yang menyimpan sisi kelam. Setiap keputusan yang ia ambil justru menuntunnya semakin dalam ke jurang penderitaan. Namun, di balik semua luka dan pengkhianatan, secercah harapan masih menanti. Akankah Wulan menemukan jalan keluar menuju kebahagiaan, atau justru tenggelam selamanya dalam lingkaran gelap yang membelit hidupnya?
Lihat lebih banyak“Sari, memangnya kamu yakin ngejalanin hubungan gelap sama Yudha? Gak takut ketahuan Hermawan? Gak kasihan sama Budi, anakmu?” tegur Wulan saat mereka duduk santai di ruang tamu.
“Ah! Kamu ini kampungan banget, Wulan? Kita ini berada lima ratus kilo dari suami-suami kita, gak mungkin mereka tahu,” sahut Sari sembari menatap layar ponselnya. “Aku butuh hiburan, Wulan. Biar nggak stress kerja mulu.”
“Masa hiburan kok selingkuh, Sar,” protes Wulan sembari mengerutkan dahi. “Kek nggak ada hiburan lain aja. Memangnya kamu mau dimainin sama cowok? Atau tujuanmu kesini memang untuk berbuat seperti itu? Kamu sebenarnya gak butuh kerjaan, kan?”
Mendengar ucapan Wulan yang mulai serius, Sari meletakkan ponselnya di meja dan segera menatap lekat sahabat karibnya itu.
“Kata siapa aku gak perlu kerja, Wulan. Kamu tahu kan, kalau Hermawan itu cuma guru honorer, gajinya nggak cukup buat beli bedak. Belum ini itu yang harganya kian menanjak ini.”
“Tapi nggak harus selingkuh juga, Sari! ” protes Wulan sembari mencubit pipi Sari.
Sari terkekeh, lalu melempar alasan yang membuat Wulan menggelengkan kepala, “Tapi ada persoalan lain yang lebih penting, Wulan!” ia berhenti sejenak untuk mencondongkan wajahnya ke muka Wulan. “Suamiku itu nggak perkasa di ranjang.”
“Eh kok sampai ke ranjang segala kamu, Sar!”
“Memangnya kamu nggak pernah mikir kalau kebutuhan di ranjang itu juga penting?” sahut Sari dengan nanya balik. “Memangnya kamu sendiri bisa nahan kalau lama nggak dibelai laki-laki?”
Wulan kembali mengerutkan dahi. Ia tak yakin apakah pertanyaan Sari itu pantas dijawab atau tidak.
“Bukanya kamu sendiri kemarin yang bilang kalau Heru sudah lama nggak nyentuh kamu?” imbuh Sari setelah tak sabar menunggu jawaban Wulan. “Pasti rindu, kan?” kata Sari sembari mencolek kelemahan Wulan.
“Awh! Dasar gila kamu, Sar,” sahut Wulan, seketika ia menjauh dari Sari. “Mas Heru memang nggak pernah nyentuh aku. Tapi, selama aku masih menjadi istri sah-nya, aku akan setia kepadanya.”
“Yakin kamu?” ucap Sari. “Beneran, tahan nggak dibelai laki-laki?”
“Udah ah! Aku mau mandi!” jawab Wulan ketus. Ia segera bangkit dan melangkahkan kaki meninggalkan Sari seorang diri.
“Gak usah mandi aja, Wulan. Biarpun sewangi bunga, ntar malem juga nggak akan ada yang meluk kamu, kan?” goda Sari sembari tertawa kecil.
“Biarin, aku kan bukan kambing!” sahut Wulan sembari menjulurkan lidahnya untuk membalas ejekan Sari.
Pada mulanya Wulan menganggap kata-kata Sari hanyalah angin lalu. Namun, ketika ia mengusapkan sabun mandi ke sekujur tubuhnya, kata-kata sahabat karibnya itu terlintas dalam benaknya.
‘Memangnya kamu sendiri tahan kalau nggak dibelai laki-laki?’
Wulan merenungkan kata-kata itu. ‘Sejujurnya aku rindu belaian seorang laki-laki, Sar. Sudah berbulan-bulan Mas Heru nggak pernah nyentuh aku.’
Seketika itu juga, bayang-bayang wajah Heru berkelana di dalam pikirannya. Tanpa sadar, jemarinya mulai menjelajahi lekuk tubuhnya.
“Ahh…!” rintih manja Wulan lirih. Ia membayangkan masa-masa indah bersama suaminya itu.
“Wulan! Cepetan mandinya!. Aku mau mandi juga! Kekasih gelapku mau datang,” pekik Sari sembari menggedor pintu kamar mandi itu sekuat tenaga.
“Iya… iya… sebentar!” sahut Wulan gugup.
Wulan segera melenyapkan imajinasi nakal itu dari pikirannya dan bergegas menyelesaikan mandinya.
“Ya ampun! Sudah kubilang, kan, malam ini nggak ada yang akan meluk kamu, jadi nggak usah lama-lama mandinya,” ucap Sari sembari mencoba menarik handuk yang melilit tubuh Wulan.
“Biarin. Wekkk…!” jawab Wulan yang dengan gesit menghindari gerakan sahabat karibnya itu.
***
Setengah jam kemudian, Yudha datang dengan menenteng tiga porsi ayam bakar. Sari bergegas menyambut kekasih gelapnya itu dengan kecupan mesra tanpa merasa canggung meskipun Wulan berada di sampingnya.
Ketiganya lalu menikmati ayam bakar itu di ruang tamu sembari berbincang-bincang santai. Yudha dan Sari duduk berhimpitan di sofa. Sementara Wulan duduk di lantai beralaskan karpet sembari menonton televisi.
“Enak sekali ayam bakarnya, Mas Yudha Sayang,” ujar Sari manja. Melihat sikap manja Sari, Wulan merasa geli sehingga tawanya nyaris meledak.
“Kamu suka? Besok kalau kesini aku beliin lagi,” sahut Yudha sembari merangkul kekasihnya itu.
“Suka… suka…! Tapi aku lebih suka kamu,” jawab Sari dengan nada yang semakin manja.
Wulan kian geregetan mendengar percakapan itu. Ia tak kuasa untuk melempar senyum kecil meski sembari memalingkan muka.
“Mbak Wulan gak dingin duduk di bawah? Duduk di sofa sini, Mbak!” pinta Yudha tiba-tiba, membuat Wulan gugup karena terkejut.
“Makasih, Mas. Aku duduk di sini aja, sambil nonton TV,” sahut Wulan tersipu malu.
Setelah selesai makan bersama, Wulan merasa semakin tak nyaman berada diantara Sari dan Yudha. Ia tak kuasa menahan tawa dengan kemesraan aneh sahabat karibnya itu.
‘Ya ampun! Kamu memang sudah kelewatan, Sar! Masa di depanku kau begitu nyaman bermesraan dengan lelaki yang bukan suamimu,’ batin Wulan.
“Sayang. Kamu nggak usah pulang malam ini, ya,” pinta Sari manja sembari memeluk dan mencium Yudha.
“Memangnya mau dikasih apaan?”
“Ada deh…!” sahut Sari sembari mencubit hidung Yudha. “Rahasia,” tambah Sari setengah berbisik.
Menyaksikan adegan-adegan yang kian dalam itu, Wulan merasa semakin risih. Ia pun segera bangkit sembari meraih remot televisi.
“TV-nya mau ditonton nggak? Aku mau tidur,” kata Wulan.
“Biarin hidup aja. Jam segini udah mau tidur kamu, Wulan?” tanya Sari.
“Capek aku, Sar. Aku mau istirahat dulu, ya!”
“Ya udah sana. Semoga mimpi ketemu seorang pangeran!” goda Sari sembari melempar senyum ejekan.
Meskipun telah berada di dalam kamar, namun Wulan masih mendengar percakapan mesra Sari dan Yudha sebab kamarnya bersebelahan dengan ruang tamu. Karena merasa risih setelah terus-terusan mendengar percakapan tersebut, ia berniat untuk mendengarkan musik dengan menggunakan headset.
Wulan mencari headset dan menemukannya tergeletak di bawah bantal. Secepat kilat ia menyambarnya agar cepat-cepat bisa menyumbat telinganya. Namun, ia langsung menyesali tindakan gegabahnya itu, sebab headset itu putus seketika karena tersangkut di pinggiran ranjang.
“Huh… sial!” sesal Wulan lirih.
Kini, Wulan terpaksa mendengarkan obrolan-obrolan sepasang kekasih gelap itu sembari merenungkan nasib kehidupannya di perantauan. Ia tak menyangka jika niatnya untuk mencari uang di perantauan menjadi seperti ini, melihat sahabat karibnya berselingkuh di depan matanya sendiri.
‘Aku memang telah berhasil mendapatkan uang untuk menghidupi putriku, tapi sikap Sari sungguh membuatku kecewa,’ gumam Wulan dalam hati.
Saat itu juga, Wulan teringat kejadian empat bulan yang lalu saat ia bercerita kepada Sari bahwa dirinya membutuhkan pekerjaan.
“Aku juga lagi nyari lowongan, nih. Aku saja yang nyari, kalau ada nanti aku kabari. Aku carikan lowongan yang bisa kita masuki bersama,” jawab Sari.
“Serius? Kamu mau kerja juga?” tanya Wulan, tak yakin jika sahabat karibnya itu punya niat yang sama dengan dirinya.
Sari menganggukan kepala dan tak sampai satu bulan ia memberi kabar jika ada lowongan untuk mereka berdua. Akhirnya, mereka pun berada di sini, lima ratus kilometer dari kampung halamannya.
Malam semakin larut dan Wulan tak sekalipun mampu memejamkan mata. Saat jam di ponselnya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, ia terkejut karena televisi dan lampu depan dimatikan, serta pintu depa di kunci. Padahal, ia belum mendengar sepeda motor Yudha pergi dari rumah tersebut. ‘Sari benar-benar mengajak Yudha menginap di rumah ini,’ gumam Wulan dalam hati.
Tak berselang lama, setelah Wulan mendengar bisik-bisik Sari dan Yudha di depan kamarnya. Ia segera mengambil bantal untuk menutup telinganya karena paham dengan apa yang akan terdengar selanjutnya.
‘Ya ampun! Yudha memang mengagumkan,’ bisik Wulan dalam hati. Ia tampak ternganga saat menyaksikan pemandangan itu.‘Ingin sekali aku bersamamu, Yudha,’ batin Wulan lagi. Diam-diam ia menelan ludahnya sendiri.Pemandangan asing itu mengingatkan masa-masa indah saat Wulan masih hidup berbahagia bersama dengan Heru. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menghabiskan malam penuh kehangatan bersama Heru, terutama menjelang tidur. Sebab, ia begitu sulit untuk memejamkan mata jika tak memanjakan suaminya itu.Tapi kali ini–meskipun nafsu terus membujuknya agar meraihnya–namun naluri dalam diri Wulan masih sangat kuat untuk membendung bisikan nakal nafsu. Oleh karena itu, ia segera melawan dengan melepaskan cengkraman jemari Yudha.
“Kamu nampak begitu kesepian, Wulan,” bisik Yudha. Suara pria itu begitu pelan namun telah cukup untuk menusuk-nusuk dada Wulan.Mendengar ucapan Yudha, Wulan hendak segera berlari. Namun, selain karena jemari Yudha yang masih mencengkramnya erat, ia masih terpana dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan.Wulan kembali berdiam diri, menikmati setiap hembusan nafas Yudha yang menerpa pipi. Menikmati bisikan pria itu yang menggoda. Tak berselang lama, Wulan merasa jika ia memang telah terlalu lama tak menerima sentuhan laki-laki, diam-diam ia mengabsahkan kata-kata Yudha. ‘Kau benar, Yudha. Aku memang kesepian. Aku rindu dibelai seorang laki-laki,’ batin Wulan. 'Tapi aku punya suami. Dan kau kekasih sahabatku.’Terbuai lamunan, Wulan tak sadar jika bibir hangat Yudha telah menyentuh kulit pipinya. Begitu sadar, bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang, dan nafasnya kian memburu.“Wulan,” bisik Yudha lagi.“Jangan gila, Yudha. Ada Sari di rumah ini,” sahut Wulan lirih.
Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Wulan bergegas menuju ke kloset duduk dan segera menarik ujung dasternya ke atas dengan gerakan yang tergesa-gesa, seolah gejolak hasratnya memang tak mau menunggu.Ia segera menurunkan pakaian dalamnya itu hingga ke lutut, dan membiarkannya menggantung di sana.Tak berselang lama, Wulan menghela napas dalam-dalam saat suara gemericik halus menggema tipis di ruangan itu. Setelah keheningan kembali menyelimuti, ketegangan yang sedari tadi memuncak di bawah perutnya perlahan mengendur, sehingga raut wajahnya tampak kian rileks.Niat awal Wulan pergi keluar kamar sebenarnya bukan untuk mengintip, melainkan hendak menuntaskan hasrat alaminya, pipis. Namun saat berada di depan pintu Sari, rintihan manja sahabat karibnya yang semakin menyusup ke dalam pendengaranya itu, membuat ia semakin penasaran untuk menyaksikan adegan dewasa antara sahabat karibnya itu dengan Yudha, kekasih gelapnya.“Lega sekali rasanya,” gumam Wulan lirih, setelah ia selesai menunta
Wulan membuka pintu sangat pelan. Sebab, ia tak ingin Sari tahu jika dirinya keluar kamar saat sahabat karibnya itu memadu asmara bersama dengan Yudha.Setelah pintu terbuka seperempatnya, ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain yang melihatnya. Wulan dan Sari hanya tinggal berdua di rumah milik majikannya, Agus. Sehingga tak mungkin ada orang lain di rumah tersebut, kecuali Yudha yang kini bersama Sari. Tanpa menyelidik ke sekitar pun, semestinya tak ada orang lain yang mengamati gerak-gerik Wulan.Rumah tersebut ditawarkan oleh Agus saat mereka menanyakan tempat kos kepada majikannya itu.“Kalian ndak usah nyari tempat kos,” kata Agus. “Kalau mau, tinggal saja di rumah saya. Sekalian biar rumahnya terawat.”“Boleh, Pak,” sahut Sari cepat. “Tapi biayanya berapa, Pak?”“Tak usah bayar. Gratis. Asal kalian mau merawatnya. Sebab, rumah itu lama gak digunakan. Sayang kalau ndak ditempati, nanti bisa rusak sendiri,” ujar Agus meyakinkan. “Ehmmm… lokasinya memang s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.