“Mbak Rani sudah pulang, Mas.”Suara Airin pelan dan sedikit bergetar menahan sakit yang pelan-pelan menusuknya semakin dalam.Tidak ada jawaban dari Tama, hanya suara dengkur lembut yang perlahan keluar dari mulutnya.Airin melihat Tama dan ternyata pria itu sudah terlelap. Hati-hati ia merapikan selimut Tama, bahkan membetulkan letak kompresnya yang miring.Sepanjang malam itu, Airin berjaga. Ia tidak bisa benar-benar terlelap. Suhu tubuh Tama naik turun. Kadang ia menggigil kedinginan, kadang juga merasa kepanasan.Airin memeriksa suhu Tama, mengganti kompres, mengambil air, lalu berkali-kali melihat ponselnya yang berisi pesan-pesan yang tidak dibalas.Pagi harinya, setelah semalaman nyaris tidak memejamkan mata, Airin berjalan lesu keluar kamar. Merebus air, menyiapkan susu hangat untuk Tama dan kopi untuknya. Kali ini, ia benar-benar butuh kafein untuk membuat matanya terjaga.“Non, gak baik ibu hamil minum kopi.”Suara B
Last Updated : 2026-08-25 Read more